DetikNews
Rabu 15 Agustus 2018, 14:04 WIB

Ludruk Cak Durasim Lawan Penjajah Jepang akan Dipentaskan Lagi

Deni Prastyo Utomo - detikNews
Ludruk Cak Durasim Lawan Penjajah Jepang akan Dipentaskan Lagi Cuplikan lakon 'Cak Durasim Sang Pahlawan'. (Foto: Istimewa)
Surabaya - Untuk memperingati kemerdekaan sekaligus memeriahkan Asian Games 2018, puluhan seniman ludruk yang tergabung dalam kelompok Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara Surabaya akan manggung di dua pusat kesenian di Jakarta.

Pementasan digelar selama tiga hari berturut-turut, dengan jadwal tanggal 17 Agustus di TMII dan pada tanggal 18-19 Agustus bergeser ke Gedung Graha Bakti, Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat.

Sutradara Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara, Meimura mengaku akan membawa sedikitnya 40 aktor dan aktris binaannya untuk membawakan lakon 'Cak Durasim Sang Pahlawan'.


Ada cerita menarik di balik pemilihan judul ini. Pada masanya, Cak Durasim merupakan seniman ludruk asal Surabaya yang paling diburu oleh tentara Jepang. Penyebabnya, Cak Durasim mempopulerkan sebuah kidung yang bisa membuat tentang Jepang meradang.

Kidung itu berbunyi: 'Pagupon omahe doro, dijajah Nippon tambah soro'.

"Berkat kidungan itulah, akhirnya Cak Durasim dibunuh oleh tentara Jepang di atas panggung dengan sebilah samurai, ketika ia sedang pentas di panggung," kata Meimura saat ditemui detikcom di Taman Budaya Cak Durasim, Rabu (15/8/2018).

Oleh sebab itu, Meimura sengaja membawa lakon Cak Durasim ini saat pentas di Jakarta nanti. Upaya ini juga untuk mengangkat kembali nama Cak Durasim yang saat ini seolah-olah hanya terpatri menjadi plakat di Taman Budaya Cak Durasim. Faktanya, banyak generasi muda yang tak mengetahui siapa Cak Durasim sebenarnya.

Padahal menurut pria yang akbrab dipanggil Bang Mei ini, sebelum kemerdekaan, ludruk juga menjadi salah satu wadah alternatif perjuangan di kala merebut kemerdekaan Indonesia.

Dari sini Meimura berharap negara ikut hadir dan memperhatikan nasib kesenian rakyat khas Jatim tersebut.

"Kita ingin pentas di Istana Merdeka seperti yang dulu pernah dilakukan oleh Presiden Soekarno. Apalagi sekarang Presiden Jokowi sudah mengesahkan undang-undang pemajuan kebudayaan," ujar Meimura.


Ditambahkan Meimura, kelompok ludruk binaan Pemkot Surabaya ini juga akan membawakan lakon lain yang bertajuk 'Guruku Tersayang (Bui)'.

Lakon yang diadopsi dari naskah teater karya Akhudiat ini berkisah tentang seorang guru yang harus terjerumus di dalam jeruji besi lataran mengkorupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Namun di dalam penjara, guru tersebut dipertemukan dengan bandar narkoba yang biasanya mengendalikan bisnis di dalam lapas.

"Guru itu orang pilihan. Jika sosok ini melakukan tindak kriminal, tak ada lagi yang bisa jadi panutan bagi murid-murid sebagai generasi masa depan. Oleh karenanya pentingnya pendidikan karakter di dalam sekolah," tegas Meimura menjelaskan makna di balik lakon tersebut.

Rencananya sejumlah tokoh juga akan hadir dalam pementasan tersebut. Salah satunya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed