detikNews
Kamis 09 Agustus 2018, 13:29 WIB

Lomba Agustusan di Kota Ini Ajak Ibu-Ibu Olah Bahan Baku Nasi Tiwul

Purwoto Sumodiharjo - detikNews
Lomba Agustusan di Kota Ini Ajak Ibu-Ibu Olah Bahan Baku Nasi Tiwul Foto: Purwoto Sumodiharjo
Pacitan - Bagi yang suka kuliner tradisional tentu pernah menikmati Nasi Tiwul. Menu berbahan tepung singkong ini dulunya merupakan menu rumahan warga pedesaan. Tapi belakangan keberadaannya justru menjadi primadona. Bahkan menjadi suguhan spesial di rumah makan.

Nah, tahukah Anda untuk mendapatkan nasi tiwul yang kenyal dan bercita rasa lezat dibutuhkan proses panjang? Konon, tahapan tersulit dan membutuhkan keahlian khusus adalah Muyu'. Muyu' yakni mencampur tepung dengan air lalu menggoyangnya hingga membentuk gumpalan-gumpalan kecil sebelum akhirnya ditanak.

Tangan-tangan terampil itu siaga menanti aba-aba. Mereka adalah para anggota Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Pacitan. Posisinya berbaris membentuk huruf U membelakangi pendopo kabupaten. Di depan mereka terdapat tampah (nampan berbahan anyaman bambu), plastik kapasitas 1 kg berisi tepung singkong, dan satu ember kecil air.

"Satu, dua, tiga. Mulai!" teriak pembawa acara menandai dimulainya perlombaan.

Ratusan perempuan itu pun serempak mengambil posisi duduk. Mereka lantas meraih tepung singkong dan menuangkan ke dalam tampah. Sambil meratakan tepung ke seluruh permukaan berbentuk lingkaran, sedikit demi sedikit air bersih dituangkan. Tampah diangkat lalu digoyang dengan gerakan memutar.

Sekilas, aktivitas tersebut tampak sederhana. Namun ternyata banyak peserta mengaku kesulitan menghasilkan gumpalan yang kenyal. Selain karena tak terbiasa, terbatasnya waktu lomba juga menjadi tantangan bagi peserta. Panitia memang memberi batasan waktu hanya 5 menit untuk menyelesaikannya.

"Karena saya tidak pernah muyu jadi ya agak kesulitan," ujar Mulyani, seorang peserta ditemui detikcom di lokasi, Kamis (9/8/2018) siang.

Karyawati sebuah koperasi itu mampu menyelesaikan perlombaan kurang dari tenggat waktu yang ditentukan. Hanya saja dirinya mengaku kurang puas. Pasalnya campuran yang dihasilkan tak sesuai harapan.

"Ya jadi, tapi hasilnya nggak begitu bagus," ungkapnya tersipu.

Kegiatan tersebut juga diwarnai kehadiran peserta kehormatan. Yakni Ketua Tim Penggerak PKK, Ny Luki Indartato. Ada pula istri wakil bupati, Ny Yudi Sumbogo dan Ketua Dharma Wanita, Ny Bety Suko Wiyono. Mereka sekaligus menjadi juri pendamping selain juri utama dari salah satu rumah makan di Kota 1001 Gua.

Luki mengakui nasi tiwul selama ini sudah identik dengan Kabupaten Pacitan. Bahkan bagi wisatawan yang datang ke kota di barat daya Jatim ini menikmati nasi tiwul telah menjadi kebutuhan. Lebih nikmat lagi jika disajikan dengan aneka lauk berbahan ikan laut berbumbu pedas. Sayangnya, makin sedikit orang sekarang yang bisa mengolah bahan untuk dibuat nasi tiwul.

"Masyarakat Kabupaten Pacitan itu belum puas kalau belum makan tiwul. Dari dulu seperti itu," ujar Luki yang juga istri Bupati Indartato kepada detikcom.

"Hari ini Dharma Wanita mengadakan kegiatan seperti ini pingin tahu sebenarnya ibu-ibu ini kalau masak tiwul cuma beli apa bisa bikin sendiri," imbuhnya sembari menjelaskan jika kegiatan merupakan rangkaian peringatan HUT Ke-73 RI.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com