detikNews
Selasa 07 Agustus 2018, 15:30 WIB

Belajar dari Gempa Lombok, ini Pentingnya Bangunan Tahan Gempa

Purwo S - detikNews
Belajar dari Gempa Lombok, ini Pentingnya Bangunan Tahan Gempa BMKG bicara tentang pentingnya bangunan tahan gempa di Indonesia. (Foto: Purwo S)
Pacitan - Gempa Lombok tak hanya menyisakan kerusakan di sekitar pusat getaran. Fenomena alam itu juga meninggalkan dampak serius di daerah sekitarnya.

Menurut BMKG, hal ini karena gempa tersebut tidak bersifat lokal, melainkan efeknya merambat ke wilayah-wilayah lain.

"Ketika (gempa) terjadi di suatu tempat bukan berarti terlokalisir di wilayah itu saja karena pusat gempa itu bukan satu titik tapi bidang yang cukup luas," kata R. Mulyono Rahadi Prabowo, Deputi Bidang Meteorologi BMKG di sela pembukaan Sekolah Lapang Nelayan (SLN) di Pantai Tamperan, Pacitan, Selasa (7/8/2018).


Secara umum, lanjut Prabowo, wilayah Indonesia memang berpotensi terjadi gempa, terutama di kawasan rawan meliputi sepanjang pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTB). Alasannya, daerah-daerah tersebut berada di lintasan lempeng Indo-Australia.

"Kita tidak bisa memprediksikan kapan terjadi (gempa) tetapi antisipasi yang perlu kita lakukan. Seperti saya sampaikan, tingkat literasi masyarakat terhadap informasi BMKG, baik cuaca, iklim, maupun kegempaan," imbuh pria yang pernah menjabat Deputi Bidang Klimatologi BMKG ini.


Di sisi lain, tambah Prabowo, ketersediaan bangunan yang ramah gempa juga sangat diperlukan. Infrastruktur yang tangguh terhadap guncangan gempa dapat mengurangi dampak yang timbul saat gempa terjadi.

Anggota Komisi V DPR-RI Gatot Sudjito yang juga hadir dalam kesempatan itu menilai pentingnya mencari solusi terhadap dampak kerusakan akibat gempa. Apalagi jika dari waktu ke waktu intensitas kegempaan dirasakan makin meningkat. Pun jika efeknya dirasakan makin mengancam keselamatan warga.


Selama ini BMKG telah memasang Tsunami Kit di beberapa titik perairan di daerah rawan gempa. Hanya saja, lanjut politisi Partai Golkar dari Dapil VII Jatim ini, perangkat tersebut harus didukung prasarana lain seperti konstruksi bangunan tahan gempa.

"Kayak di Jepang itu bangunan-bangunan pasti adalah tahan gempa. Misalkan begitu. Nah, Indonesia ini kan sudah harus mengevaluasi terus. Tentu kita tidak ingin bangunan milik masyarakat maupun pemerintah pada akhirnya rentan terhadap gempa," terang Gatot.

Untuk itu, DPR bersama pemangku kepentingan lain sedang menyusun rekomendasi terkait evaluasi penanganan gempa. Selain melibatkan BMKG, kajian yang akan dilakukan nantinya juga melibatkan akademisi maupun pakar di bidangnya.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com