detikNews
Jumat 29 Juni 2018, 18:06 WIB

Hari Pertama Lebaran Listrik di Ponorogo Padam, Ini Penyebabnya

Charolin Pebrianti - detikNews
Hari Pertama Lebaran Listrik di Ponorogo Padam, Ini Penyebabnya Balon udara yang tersangkut di kabel milik PLN di Mlarak/Foto: Istimewa
Ponorogo - Hari pertama lebaran, Bumi Reog mengalami pemadaman listrik. Salah satu penyebabnya, karena ada balon udara yang tersangkut di kabel listrik. Pasalnya, ukuran balon udara yang besar membuat kabel korsleting dan mengakibatkan pemadaman listrik demi keamanan warga.

"Laporan kemarin di Desa Mlarak, sekitaran kawasan Pondok Gontor sempat padam pada hari pertama lebaran. Karena ada balon udara yang tersangkut di kabel listrik," tutur Manajer Area PLN Ponorogo Muhammad Rizlalni kepada detikcom di kantornya Jalan Dr Soetomo No 34, Jumat (29/6/2018).

Rizlalni mengatakan balon udara tersebut tersangkut di kabel listrik hingga menyebabkan sekitar wilayah Mlarak padam. "Untung ada warga yang tanggap dan lapor, petugas kami pun langsung turun ke lapangan dan mengecek penyebab korsleting listrik," terangnya.

Selain di Desa Mlarak, ada pula penemuan balon udara tersangkut di Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) di Dusun Klepu, Pacitan, yang menghubungkan listrik untuk wilayah Ponorogo dan Pacitan.

"Meski tidak sampai padam, namun menurunkan satu line dan bisa langsung di-backup, kalau tidak ya bisa padam dua kabupaten," tegasnya.


Akibat kejadian tersebut, lanjut Rizlalni, ada 18 ribu pelanggan yang terdampak. "Banyak keluhan dari masyarakat, hari pertama lebaran kok padam. Padahal penyebabnya bukan dari PLN, melainkan adanya balon udara," imbuh dia.

Namun dibandingkan tahun lalu, tahun ini sudah terjadi penurunan kebiasaan menerbangkan balon yang bisa menyebabkan korsleting berakibat padamnya listrik. "Tahun lalu laporannya Trenggalek 3 titik, Ponorogo 2 titik. Tapi tahun ini ya cuma Ponorogo 1 titik dan Pacitan 1 titik," tambahnya.

Dia menambahkan akibat kejadian tersebut, PLN mengalami kerugian Rp 30 juta. "Karena padamnya sekitar 2 jam," tegas dia.

Beruntung meski mengakibatkan pemadaman, alat yang dipergunakan tidak mengalami kerusakan. Namun menurunkan usia penggunaan, jika biasanya alat listrik tersebut bisa digunakan untuk 10 tahun, turun menjadi 5 tahun saja.

"Selain balon udara penyebab lainnya adalah layang-layang yang tersangkut, itu juga menyebabkan kerusakan," tandas dia.

Rizlalni pun mengimbau kepada warga jika ingin menerbangkan balon udara sebaiknya diikat. Sehingga pergerakannya bisa dipantau. "Seperti festival balon kemarin, itu bagus mengajarkan masyarakat untuk tetap menjalankan tradisi, namun aman dan nyaman," pungkasnya.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed