detikNews
Selasa 12 Juni 2018, 12:54 WIB

Cicipi Manisnya Jenang, Jajanan Tradisional Khas Bumi Reog

Charolin Pebrianti - detikNews
Cicipi Manisnya Jenang, Jajanan Tradisional Khas Bumi Reog Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Salah satu jenis panganan tradisional khas bumi reog adalah jenang. Jenang kerapkali menjadi pilihan untuk oleh-oleh, apalagi jelang Lebaran.

Di Ponorogo, ada salah satu sentra pembuatan jenang legendaris dengan merek dagang 'Teguh Raharjo'. Di industri rumahan ini, ada beragam jenang yang diproduksi, mulai dari jenang ketan, jenang beras, hingga jenang gaya baru seperti jenang kentang, jenang waluh (labu kuning), jenang mangga, jenang nanas, jenang sirsat, jenang pisang hingga jenang coklat kurma.

Sang pemilik, Sri Harijati (84) mengaku juga memproduksi wajik, jajanan tradisional yang terbuat dari ketan dan bercita rasa manis.


Keduanya memiliki perbedaan harga yang signifikan. Semisal untuk satu pak jenang kemasan 3 ons dijual dengan harga Rp 17.500.

"Kalau wajik harganya Rp 30 ribu dengan berat 3 ons juga. Lebih mahal karena pengerjaannya lebih lama dan rumit," tutur sang pemilik Sri Harijati saat ditemui detikcom di kediamannya, Selasa (12/6/2018).

Sejak awal Ramadan lalu, Sri mengaku bisa menjual 5.000 pak jenang dan wajik dalam satu hari. "Kalau hari biasa biasanya 500-1.000 pak sehari, ini berkah Ramadan, jenang laris manis," ungkapnya.

Sri pun setidaknya mampu meraup omzet Rp 525 juta selama bulan Ramadan saja. "Biasanya puncaknya saat arus mudik dan balik, karena banyak warga luar kota datang kesini untuk beli oleh-oleh," lanjutnya.

Jenang, Jajanan Khas Bumi Reog yang Laris Manis Jelang Hari RayaFoto: Charolin Pebrianti

Untuk produk yang paling banyak diminati, Sri mengatakan pilihan jatuh pada jenang jenis coklat kurma, nanas dan mangga. "Biasanya yang rasa buah selalu diminati, tapi yang lain juga ada peminatnya," imbuhnya.

Sri menambahkan produk buatannya mampu bertahan hingga 6 bulan lamanya, meski tanpa diberi pengawet. "Kalau proses memasaknya benar dan matang bisa tahan lama," ujarnya.


Di sela-sela perbincangan, Sri pun mengisahkan awal mula nama Teguh Raharjo diambil dari nama sang suami. Awalnya mereka memiliki usaha toko kelontong di pasar.

"Kami baru memberanikan diri membuka usaha jenang sekitar tahun 1982. "Waktu itu baru memproduksi tiga hingga lima kilogram beras dan ketan. Saya mempekerjakan dua orang untuk membuat tepung dan memarut kelapa," paparnya.

Rintisan usahanya terus menggeliat. Dua tahun sejak berdiri, pada tahun 1984 dia memiliki empat tenaga kerja. Kemudian pada 1986, usahanya mulai mendapatkan perhatian dari pemerintah.

"Pada tahun 1986 saya mendapatkan pembinaan dan bantuan modal dari pemerintah. Waktu itu dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Bagian Perekonomian Pemerintah Kabupaten Ponorogo," tambahnya.

Bahkan pada kisaran tahun 1990, pemerintah mengajaknya studi banding ke Kudus, Klaten serta Garut dalam rangka menimba ilmu. "Dari sanalah saya mulai mengenal aneka macam jenang atau dodol yang bukan hanya terbuat dari beras dan ketan. Ada dodol kentang, nanas, mangga, pisang dan banyak lagi," tandasnya.


Saat ini, Sri memiliki sekitar 40 orang pekerja yang sebagian besar adalah perempuan. Ada dua pekerja laki-laki yang bertugas mengupas kelapa dan satu pekerja laki-laki lagi yang melakukan pencatatan-pencatatan produk.

Menariknya, jika dulu proses mengaduk jenang menggunakan tenaga manusia, kini Sri telah berinovasi dengan membuat mikser yang terpasang di atas penggorengan jenang. "Selain lebih mudah, juga lebih praktis jika menggunakan mikser," katanya.

Sri pun berharap bisa mendapatkan lebih perhatian dari pemerintah agar produknya bisa sampai ranah ekspor. "Kami ingin bisa lebih mengembangkan usaha kami supaya bisa lebih dikenal. Kalau bisa sampai ekspor ke luar negeri," pungkasnya.



Yuk 'Melihat Proses Pembuatan Jajanan Ponorogo yang Legendaris':

[Gambas:Video 20detik]


(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com