Agenda Ngabuburit di Ngawi: Berburu 'Waluh Majasem'

Sugeng Harianto - detikNews
Rabu, 23 Mei 2018 14:39 WIB
Foto: Sugeng Harianto
Ngawi - Ngabuburit tak melulu dengan nongkrong atau berburu rumah makan. Sentra buah waluh atau labu kuning juga bisa menjadi alternatif agenda ngabuburit jika Anda melintas atau sedang berkunjung ke Ngawi.

Sentra waluh ini berada di jalur alternatif Madiun-Solo, tepatnya di Desa Majasem, Kecamatan Kendal.

"Desa Majasem sudah sejak lama memang ikonnya buah waluh. Jadi setiap bulan Ramadhan berkah buat penjualnya," terang Kepala Desa Majasem Nur Muhamadi kepada detikcom, Rabu (23/5/2018).

Dijelaskan Nur, buah waluh ini juga merupakan hasil panen milik warga. "Buah waluh ini ditanam secara tumpangsari oleh petani di antara tanaman padi serta palawija. Jadi tidak secara khusus sawahnya buat tanaman waluh," ungkapnya.


Nur menambahkan ada ribuan warga yang menanam waluh. Rata-rata petani menanam 10 hingga 20 bibit waluh yang hidup menjalar di antara jerami.

"Kalau petani seribu lebih yang menanam dengan tumpangsari di antara padi dan palawija. Untuk pemasaran cukup di pinggir jalan desa kebetulan jalur alternatif arah Solo dari Madiun dan Magetan," katanya.

Di desa ini ada sekitar 20-an pedagang yang berjualan waluh berjajar sepanjang jalan sekitar 100 meter. Bulan Ramadan pun menjadi berkah tersendiri bagi para penjual karena banyaknya pembeli yang mencari buah ini untuk diolah selama puasa.


Waluh sendiri dapat diolah menjadi kolak ataupun sayur lodeh hingga manisan. Harga per buah waluhpun bervariasi tergantung berat.

"Harga antara Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per kg. Satu buah waluh beratnya antara 5 kg hingga 10 kg, jadi ndak sama. Untuk bentuk ada yang lonjong ada yang bulat ada yang bulat gepeng," jelas salah satu penjual waluh, Ningsih (37).

Para penjual pun mengaku omzetnya meningkat, bahkan bisa enam kali lipat dari hari biasa. Bila di hari biasa, omzetnya hanya berkisar Rp 500 ribu, maka di bulan Ramadan, omzetnya bisa mencapai Rp 3 juta/hari.

"Alhamdulillah mas meningkat. Ini hasil jualan saya sampai kewalahan. Soalnya sebagian pembeli juga dijual lagi," terang Ningsih.


Ningsih menambahkan, petani setempat sampai kewalahan memenuhi permintaan waluh yang meningkat, hingga ia mengaku harus mendatangkan sebagian waluh dari luar daerah seperti Trenggalek dan Tulungagung.

Salah satu pembeli yang berhasil dijumpai detikcom mengaku sengaja ke Desa Majasem untuk berburu waluh.

"Saya dari Madiun tujuan memang mau kesini buat beli buah waluh. Sekalian ngabuburit saya ajak istri biar memilih yang bagus," tutur Edi (53). (lll/lll)