DetikNews
Kamis 26 April 2018, 23:13 WIB

Resmikan Panti Pijat di Siola, Risma: Saya Ingin Berbuat Adil

Zaenal Effendi - detikNews
Resmikan Panti Pijat di Siola, Risma: Saya Ingin Berbuat Adil Foto: Istimewa
Surabaya -

Cita-cita Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk mensejahterakan warganya kembali diwujudkan dengan menyediakan wadah khusus bagi penyandang tunanetra.

Panti pijat tunanetra di Gedung Siola lantai 1 pun diresmikan secara langsung oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Kamis, (26/4/2018).

Risma mengatakan, panti pijat tunanetra ini khusus didedikasikan untuk mereka. "Saya ingin berbuat adil, agar saudara-saudara kita bisa mengakses kehidupan yang lebih baik sama halnya dengan orang pada umumnya," katanya dalam sambutan.

Selain itu, Risma juga berencana memberi kesempatan kepada para tunanetra untuk bekerja di kantor Pemkot Surabaya. Caranya dengan memberi ketrampilan lain bagi penyandang difabel. "Agar ada akses yang sama dengan warga pada umunnya. Mudah-mudah bisa terwujud," ujar Risma.

Saat meninjau panti, Risma pun berkesempatan untuk mencoba pijat refleksi yang diberikan oleh salah satu terapis. "Enak rek, biasanya berapa menit kalau refleksi," celetuknya.


Kepala Seksi Rehabilitas Penyandang Cacat dan SRBK Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya Agus Rosyd menuturkan, sejak soft launching pada tanggal 20 April 2018 lalu, pengunjung yang datang ke panti pijat tersebut rata-rata mencapai 8-9 orang perhari.

Panti ini sendiri beroperasi setiap Senin-Sabtu, dari pukul 09.00 sampai 15.00. Sedangkan untuk tarif pelayanan, Pemkot telah mematok harga sesuai dengan kantong warga Surabaya. "Untuk durasi 15 menit seharga Rp 25 ribu, 30 menit Rp 45 ribu dan 60 menit Rp 70 ribu," terang Agus.

Agus menambahkan, untuk saat ini panti tersebut menyediakan 5 orang terapis pijat tunanetra; 3 laki-laki dan 2 perempuan dengan usia produktif antara 25-55 tahun. Menurutnya, kemampuan kelima terapis tidak perlu diragukan karena mereka telah lulus ujian untuk menjadi terapis.

"Jadi orang-orang tidak perlu khawatir dengan kemampuan mereka karena sudah bersertifikat," urai Agus.

Resmikan Panti Pijat di Siola, Risma: Saya Ingin Berbuat AdilFoto: Istimewa

Untuk membantu aktivitas terapis, Agus juga telah menyediakan satu petugas dari Dinas Sosial yang bertugas mengawasi aktivitas dan membantu tugas mereka selama bekerja. "Mungkin saat mau sholat atau mau ke toilet akan didampingi pihak Dinsos," tambahnya.

Ditambahkan Agus, meski jumlah anggota Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) Surabaya mencapai 150 orang, namun untuk sementara hanya 20 orang yang dilibatkan dalam program Pemkot ini. "Karena mereka juga tidak menganggur, melainkan juga usaha sendiri," tuturnya.


Seperti halnya yang diungkapkan salah satu terapis, Wiwik Hariyati (57). Warga Surabaya Utara ini mengaku sebelum diberi wadah oleh Pemkot, ia dan suami membuka usaha pijat di rumah.

"Alhamdulilah sekarang rezekinya bertambah sampai bisa menyekolahkan anak ke perguruan tinggi," ungkapnya.

Program Pemkot ini pun mendapat respons positif dari warga. Stefanus (55) memuji terobosan Pemkot yang memperhatikan sekaligus memberdayakan kaum tuna netra.

Baginya, terobosan ini tidak sekedar meningkatkan kondisi ekonomi mereka, tetapi juga memberi rasa kepercayaan diri serta memotivasi mereka agar dapat memberikan sumbangsih bagi sesamanya.

"Program ini sangat baik sekali dan luar biasa karena Pemkot mampu memperhatikan dan mensejahterakan orang-orang kecil semacam ini. Semoga hidup mereka semakin sejahtera ke depannya," tuturnya.
(ze/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed