DetikNews
Rabu 25 April 2018, 19:07 WIB

Kisah Ibu Tunanetra yang Tinggal Berdua dengan Anak Gangguan Jiwa

Yakub Mulyono - detikNews
Kisah Ibu Tunanetra yang Tinggal Berdua dengan Anak Gangguan Jiwa Foto: Yakub Mulyono
Jember - Malangnya ibu dan anak yang sama-sama sudah berusia lanjut dan tinggal serumah di Jember ini. Sang ibu sudah tak bisa melihat lagi, sedangkan si anak laki-laki mengalami gangguan jiwa.

Pasangan ibu dan anak ini diketahui bernama Munirah dan Ansori. Sang ibu diperkirakan telah berusia 80 tahun, dan anaknya berusia 50 tahun.

"Dia (Ansori, red) stres setelah pinangannya ditolak. Sampai sekarang belum menikah, masih membujang," kata tetangga Munirah, Jumaliyah, Rabu (25/4/2018).

Menurut Jumaliyah, suami Munirah telah meninggal sekitar 10 tahun lalu. Sejak sang suami meninggal, Munirah harus banting tulang untuk menghidupi dirinya dan anak laki-lakinya.

"Jualan sapu, telur dan sayuran. Jualannya di pasar," ungkap Jumaliyah.

Namun seiring berjalannya waktu, Munirah pun mulai sakit-sakitan dan tak sanggup lagi berjualan di pasar. Apalagi kondisi penglihatannya juga mulai terganggu.

"Akhirnya ya diam di rumah. Apalagi penglihatannya mulai terganggu. Lebih banyak berbaring saja di ranjang," lanjut Jumaliyah.


Kisah Ibu Tunanetra yang Tinggal Berdua dengan Anak Gangguan JiwaFoto: Yakub Mulyono


Kondisi ini membuat sejumlah tetangga iba. Mereka pun kerapkali mengirim bantuan makanan untuk Munirah dan anaknya. "Saudaranya juga kadang mengirim makanan," tambah Jumaliyah.

Wanita itu berharap ada kepedulian pemerintah terhadap kondisi warga Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember tersebut.

"Dulu waktu dekat rumahnya ada selep (penggilingan, red) padi, masih sering dapat bantuan dari pemilik selep. Tapi sekarang selepnya sudah tutup," ujar Jumaliyah.

Munirah sendiri terlihat kesulitan berbicara saat diwawancara. Ia lebih banyak diam ketika wartawan mengajukan sejumlah pertanyaan.

Demikian juga sang anak, Ansori. Laki-laki itu tampak cuek ketika sejumlah pertanyaan diajukan kepadanya. Kalau pun menjawab, kata-katanya susah dipahami dan cenderung melantur.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed