DetikNews
Kamis 19 April 2018, 13:17 WIB

Satu-satunya, Paguyuban Reog Ini Hanya Berisi Para Perempuan

Charolin Pebrianti - detikNews
Satu-satunya, Paguyuban Reog Ini Hanya Berisi Para Perempuan Tri Heni Astuti, pelopor paguyuban Sardulo Macan Nareshwari (paling kanan). (Foto: Istimewa)
Ponorogo - Kesenian reog didominasi oleh para pria. Namun sejumlah wanita di Ponorogo berani mendobrak kebiasaan dengan mendirikan paguyuban reog berisi para seniman perempuan.

Pelopornya adalah Tri Heni Astuti (42) bersama Yulengsi, warga Desa/Kecamatan Sawoo. Paguyuban yang mereka bentuk pun diklaim sebagai satu-satunya yang beranggotakan para seniman reog perempuan di Ponorogo.

"Karena kami sering berkumpul acara PKK di desa, akhirnya September 2015 kami sepakat mendirikan paguyuban reog perempuan satu-satunya di Ponorogo," tutur Heni saat ditemui detikcom, Kamis (19/4/2018).

Heni menambahkan, paguyubannya diberi nama 'Sardulo Macan Nareshwari'. "Intinya walaupun kita pemain reog, tetap lemah lembut sesuai kodrat seorang ibu," terang Heni.

Satu-satunya, Paguyuban Reog Ini Hanya Berisi Para PerempuanLatihan dilakukan di sela-sela kegiatan sebagai istri dan ibu. (Foto: Istimewa)

Ibu dua anak ini menegaskan, semua anggota paguyuban ini adalah perempuan. Bahkan pembarongnya (pembawa dadak merak, red) juga perempuan. "Anggotanya ada 50 orang, perempuan semua. Bahkan pembarong pun juga perempuan. Namanya Suprihatin," papar Heni.

Heni mengatakan pembarong yang sering dipanggil mbak Suprih itu memang dikenal kuat karena sehari-hari bekerja sebagai petani. "Meski perempuan, kekuatannya sama dengan pria," imbuhnya.

Dalam pertunjukan reog, Heni sendiri bertugas menjadi warok. "Sebelumnya saya di ganong, pas badan saya kecil. Sekarang ganti jadi warok," ungkapnya.

Heni mengungkapkan, paguyubannya terbentuk dari kecintaan para perempuan ini terhadap kesenian reog. Hal itu mendorong mereka untuk berusaha belajar kesenian reog dari seorang pelatih. "Ada seorang pelatih yang mengajari kami menari," lanjutnya.

Satu-satunya, Paguyuban Reog Ini Hanya Berisi Para PerempuanFoto: Istimewa

Karena harus membagi waktu antara menjadi istri dan ibu, jadwal latihan mereka pun sering tak beraturan. "Kami baru rutin latihan saat menjelang tampil, bisa setiap hari latihan," tukas Heni.

Tak hanya itu, meski memiliki reog, paguyuban Heni tak mempunyai kostum sendiri. Tiap kali ada undangan untuk tampil, mereka harus menyewa kostum.

Namun pengorbanan tak pernah membohongi hasil. Paguyuban Heni kerap diundang untuk tampil di sejumlah kota seperti Surabaya dan Gresik.

Satu-satunya, Paguyuban Reog Ini Hanya Berisi Para PerempuanAksi Suprihatin saat tampil dalam pertunjukan reog. (Foto: Istimewa)

Meski demikian, Heni pun mengakui jika pemain reog perempuan menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Ia menemui ada ibu-ibu yang ingin bergabung namun tidak diperkenankan oleh suami dengan alasan menyalahi kodrat dan agama. "Padahal ini seni tidak bisa dihubungkan dengan agama," tegas Heni.

Terlepas dari itu, Heni meyakini jika kehadiran paguyuban reog perempuan bisa menjadi alternatif yang baru dari pertunjukan reog. "Kami pernah diundang ke Surabaya dan Gresik untuk pertunjukan," ujar Heni bangga.

Dengan momentum Hari Kartini, Heni pun berharap reog perempuan bisa mendapatkan tempat sekaligus dapat dijajarkan dengan seniman reog pada umumnya.

"Saya harap saat peringatan Hari Kartini, reog perempuan bisa diikutkan. Marilah perempuan bangkit! Jangan memikirkan katanya reog menyalahi kodrat. Kita bisa berkesenian berolahraga dengan seni, kita itu punya reog maka kita kembangkan, maka kita mainkan," pungkasnya.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed