Peternakan ayam ini disambangi Khofifah untuk mengecek pengaruh program pemerintah Bantuan Pangan Non Tunai pada peternak telur. Setelah mendengar berbagai permasalahan yang dihadapi para peternak, mantan Mensos itu langsung menghubungi Dirjen Tanaman Pangan melalui ponsel pribadinya.
"Saya mendengar produksi telur dan harga pakan ayam contohnya jagung di sini menurun, karena tidak imbang antara biaya operasional pakan dan harga telur di pasar. Maka kami langsung memberikan langkah solusi dan Alhamdulillah dapat solusi dari Dirjen Tanaman dan Pangan Dr Gatot Iriyanto, " jelasnya.
Khofifah menjelaskan jika tahun lalu ada data, kebutuhan telur di Jatim ini 1,5 juta kg/bulan. Angka ini bertahap akan meningkat hingga 2,5 juta/kg telur/bulan sampai bulan Oktober tahun ini.
Kebutuhan telur itu dihitung dari pasar baru yaitu para warga miskin penerima bantuan non tuan rastra yang dikonversi menjadi beras dan telur. Sehingga seharusnya para peternak telur di Jatim mengalami peningkatan produksi dengan meningkatnya demand.
Menurut Khofifah, saat ini menjadi momen yang urgen bagi pemerintah untuk melihat pemenuhan kebutuhan gizi dan kalori masyarakat tidak mampu. Karena adanya program bantuan pangan nom tunai ini harus ditebus masyarakat dengan beras maupun telur.
"Dengan adanya peningkatan demand, maka seharusnya produksi petenak akan meningkat. Lalu kalau produksi meningkat, maka mereka akan menambah tenaga kerja. Kalau menambah tenaga kerja maka akan meningkat daya beli masyarakat, jadi program ini seperti circle yang saling terkait," pungkasnya.
Usai bertemu peternak, Khofifah melanjutkan kunjungannya ke beberapa tokoh peternak ayam di Kota Blitar. (fat/fat)











































