DetikNews
Jumat 23 Maret 2018, 08:12 WIB

Kanker Kelenjar Getah Bening Renggut Keceriaan Bocah Ini

Yakub Mulyono - detikNews
Kanker Kelenjar Getah Bening Renggut Keceriaan Bocah Ini Gilang, bocah penderita kanker getah bening/Foto: Yakub Mulyono
Jember - Gilang Septia Putra Ramadhani tak bisa lagi bermain seperti teman-teman sebayanya. Bocah 9 tahun itu kini hanya melewatkan hari-hari di pembaringan. Kanker kelenjar getah bening telah merenggut keceriannya sebagai anak-anak.

"Awalnya ketika duduk di bangku kelas satu SD, dia panas. Kita mengira itu typhus, lalu kita bawa ke rumah sakit dan diambil darahnya. Hasil tes darah waktu itu leukimia," kenang ibunda Gilang, Retno Fitria Sari ditemui di rumahnya di Jalan Yos Sudarso, Lingkungan Langsepan, Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, Jumat (23/3/2018).

Menurut Retno, waktu itu di perut anak pertamanya itu muncul benjolan. Sempat dirawat di rumah sakit sekitar sebulan, Gilang kemudian dibawa pulang. Keterbatasan biaya menjadi alasan pihak keluarga membawa Gilang pulang dirawat di rumah.

Sekitar 7 bulan lalu atau sebulan setelah dirawat di rumah, benjolan lain muncul. Kali ini di wajah dekat mata. Makin hari benjolan itu makin melebar.

"Ada benjolan di pipi, tambah bulan tambah besar," kata Retno.


Melihat benjolan yang semakin membesar, Retno bersama suaminya, Munir, kembali membawa Gilang ke rumah sakit. Di sana, dia kembali menjalani tes darah. Hasilnya, Gilang didiagnosa menderita kanker kelenjar getah bening.

Pihak rumah sakit menyarankan agar Gilang dibawa ke rumah sakit di Surabaya. Namun saran itu belum bisa dilakukan. Lagi-lagi biaya yang menjadi persoalan.

"Disuruh bawa ke Surabaya ya saya bilang nggak mampu saya. Terus disuruh bawa pulang. Kata dokternya kalau sudah ada persetujuan keluarga bawa lagi ke sini, gitu," kata Retno.

Akhirnya, Gilang hingga kini hanya dirawat di rumah. Selama di rumah, Gilang diberi obat herbal. "Harganya Rp 1,6 juta. Ini baru nyoba. Disemprotkan di mulut. Satu hari dua kali," kata Retno.

Perempuan ini hanya bisa pasrah dengan kondisi Gilang saat ini. Pekerjaan sang suami sebagai kuli bangunan membuat pihak keluarga sampai saat ini belum berani membawa Gilang berobat ke Surabaya.

"Biaya hidupnya kami nggak punya. Apalagi katanya di sana paling tidak harus menginap selama satu bulan," kata Retno.

Sementara kondisi fisik Gilang sendiri saat ini makin lemah. Anak pertama dari tiga bersaudara itu bahkan sering pingsan. Tubuhnya juga semakin kurus. "Dia sering mengeluh pusing, juga sering pingsan," pungkas Retno.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed