Di tengah terik matahari, Khofifah yang mengenakan celana hitam dan kemeja putih lengan panjang turun langsung ke lahan padi milik para petani Sukorejo. Usai memotong segenggam padi, bersama sejumlah petani dia menuju ke sebuah gubuk yang terletak di tengah hamparan padi yang sudah menguning.
Di tempat tersebut, mantan Menteri Sosial ini berdialog dengan para petani. Sejumlah keluhan pun dia terima. Mulai dari sulitnya mendapatkan pupuk, belum adanya akses modal dari perbankan, hingga belum adanya sumur air tanah.
Sejurus kemudian, Khofifah meminta salah seorang stafnya untuk mengambilkan ponsel miliknya. Tak disangka, dia menelepon langsung Menteri Pertanian.
"Halo asalamualaikum Pak Menteri Pertanian, saya boleh minta waktu lima menit. Saya di poktani Sukorejo, Perak, Jombang. Mereka berharap ada pengembangan sumur tanah. Apa katanya mereka di sini, masih agak susah untuk dapat pupuk," kata Khofifah kepada Amran melalui sambungan telepon, Kamis (22/3/2018).
Dia juga memberi kesempatan kepada Mustar, Ketua Kelompok Tani Sukorejo untuk berbicara langsung dengan Mentan Amran Sulaiman. "Petani kalau butuh pupuk ZA yang keluar Urea," keluh petani bekaus hijau ini.
Terdengar suara Amran menjawab keluhan petani tersebut. "SMS kan saja alamatnya, nanti saya kirim. Catat saja pupuk Urea segala macam," timpalnya.
Khofifah menelepon menteri pertanian dan meneruskannya ke petani Foto: Enggran Eko Budianto |
Ponsel pun dikembalikan ke tangan Khofifah. Cagub Jatim nomor urut 1 ini menyampaikan alasannya mendesak Mentan untuk membantu Kelompok Tani Sukorejo.
"Di sini sebetulnya semangat panen 3 kali setahun kuat sekali, pasti akan berseiring dengan targetnya Pak Menteri Pertanian," cetusnya.
Percakapan via telepon ini berakhir dengan kalimat penegasan dari Mentan. "Di-SMS kan saja alamatnya," tutup Amran.
"Mereka butuh P2AT (Proyek Pengembangan Air Tanah), maka tadi saya telepon Menteri Pertanian kebetulan alhamdulillah langsung nyambung. Mudah-mudahan ini akan menjadi prioritas Pak Menteri Pertanian untuk bisa memberikan support petani Sukorejo perak, jombang ini," terangb Khofifah.
Dia menjelaskan, rata-rata lahan petani di Jatim 0,25-0,3 hektare. Tentunya lahan yang sempit tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup para petani. Menurut dia, para petani harus kerja berkelompok untuk memudahkan pengadaan pupuk, air dan harga tawar produk pertanian.
Selain itu, lanjut Khofifah, persoalan yang melanda para petani adalah sulitnya akses modal dari perbankan dengan bunga ringan. Tak ayal untuk modal tanam, para petani meminjam para tengkulak. Sehingga harga jual hasil panen tergantung pada permainan tengkulak.
"Bagaimana pemerintah bisa hadir memberikan opsi terhadap pelaku-pelaku sektor pertanian. Misalnya kalau kredit usaha rakyat (KUR) bisa lebih didekatkan ke para petani termasuk nelayan. Sehingga saat mereka panen mereka bisa mempunyai harga tawar terhadap para pembeli," tandasnya. (iwd/iwd)












































Khofifah menelepon menteri pertanian dan meneruskannya ke petani Foto: Enggran Eko Budianto