Sedih Tapi Gembira, Ini Cerita Penerima KIP Dalam Karung

Deni Prastyo Utomo - detikNews
Rabu, 21 Mar 2018 18:43 WIB
Rumah Dhimas, salah satu penerima KIP (Foto: Deni Prastyo Utomo)
Surabaya - Salah satu Kartu Indonesia Pintar (KIP) di dalam karung yang ditemukan di tempat laundry tercatat atas nama Dhimas Agung Setiawan. Hingga saat ini pelajar SMK kelas 12 itu memang belum menerima KIP.

"Belum terima," ujar Dhimas singkat saat ditemui detikcom di rumahnya di Jalan Gebang Lor, Kelurahan Gebang Putih, Kecamatan Sukolilo, Selasa (21/3/2018).

Meski belum menerima KIP, namun Dhimas mengaku sudah menerima bantuan dari pemerintah yang nilainya sama dengan pemegang KIP. Dhimas pertama kali menerima bantuan pendidikan di tahun 2016 atau saat ia duduk di kelas 11. Pemuda 18 tahun itu kembali menerima bantuan serupa di tahun 2017 atau saat ia duduk di kelas 12.

"Dulu pada tahun 2016, waktu masih kelas 11 saya sudah pernah menerima dua kali. Pertama tahun 2016 Rp 1 juta dan tahun 2017 Rp 975 ribu. Beda jumlahnya karena saya ambilnya di bank yang berbeda," kata Dhimas.

Dhimas menceritakan saat itu ia ditanya sekolah apakah sudah mendapatkan kartu KIP atau tidak. Jika belum, Dhimas diarahkan untuk mengambil bantuan tersebut di salah satu bank. Sempat sedih karena belum menerima KIP, Dhimas akhirnya bersemangat setelah tahu bahwa ia mendapat bantuan meski tak punya KIP.

"Saya menjawab belum terima kartu. Pihak sekolah kemudian mengatakan bahwa bantuan itu bisa diambil di bank dengan prosedur yang sama dengan prosedur penerima KIP," kata Dhimas.

Dhimas mengaku jika nominal bantuan yang ia terima sama dengan pemilik kartu KIP. "Saya tanya teman-teman, ternyata jumlahnya juga sama. Dapatnya Rp 1 Juta. Setelah ambil dari bank, bukti penerimaannya diminta sekolah," ungkap Dhimas.


Dhimas bersama ibu dan adiknyaDhimas bersama ibu dan adiknya (Foto: Deni Prastyo Utomo)

Khusnul Khotimah (50), ibu Dhimas membenarkan apa yang dikatakan Dhimas. Khotimah bahkan menemani Dhimas saat ia mengambil bantuan itu. Tak hanya Dhimas, adiknya Dhimas juga memperoleh bantuan serupa.

"Waktu pertama kali, saya temani ambil bantuan itu," ujar Khotimah.

Khotimah yang kesehariannya berjualan gorengan dan menjadi pembantu rumah tangga di sekitar kampungnya itu mengaku sangat terbantu dengan bantuan tersebut. Mengingat ia hanya berpenghasilan Rp 50 ribu sehari.

"Sangat terbantu dengan bantuan dari pemerintah itu, apalagi saya harus menghidupi dua anak," kata Khotimah yang sudah 10 tahun menjanda.

Khotimah berharap agar bantuan dari pemerintah tidak berhenti sampai di sini. Atau paling tidak hingga sekolah dua anaknya tuntas. Khotimah tak mempersoalkan ada atau tidaknya KIP, yang penting dananya bisa cair. Bila benar KIP yang harus diterima anaknya sudah ada, ia bersyukur dan berharap kartu itu segera diberikan karena untuk tahun ini anaknya belum menerima bantuan.

"Saya hanya seorang janda, sangat butuh bantuan itu agar sekolah anak saya tuntas. Karena sekarang apa-apa itu mahal," kata Khotimah.

Dari pantauan detikcom, Dhimas bersama adik dan ibunya tinggal di sebuah rumah dengan lebar 2,5 meter dan panjang 6 meter. Hanya ada dua ruangan di rumah itu yakni ruang tamu dan dapur. Untuk sampai ke rumah itu, harus melewati gang dan jalan yang cukup sempit.

Dhimas merupakan anak pertama dari pasangan Khusnul Khotimah (50) dan almarhum Ari Setiawan. Dhimas memiliki satu adik bernama Muhammad Dio Setiawan (16) yang saat ini duduk di bangku SMK. (iwd/iwd)