Di Padang, Bupati Anas Ungkap Uniknya Wisata Banyuwangi

Ardian Fanani - detikNews
Rabu, 07 Feb 2018 19:09 WIB
Bupati Anas dalam diskusi yang digelar dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasional di Padang (Foto: Istimewa)
Banyuwangi - Dianggap berhasil mengembangkan pariwisata Banyuwangi, Bupati Abdullah Azwar Anas diminta membagikan pengalamannya kepada masyarakat Padang, Sumatera Barat.

Menurut Anas, pengembangan pariwisata Banyuwangi cukup cepat dilakukan karena konsepnya yang unik, yaitu semuanya berbasis partisipasi publik. Dengan begitu warga ikut memiliki program wisata tersebut.

"Tidak seperti daerah wisata yang sudah sangat besar yang lebih bertumpu ke swasta dan pemerintah," kata Anas dalam diskusi yang digelar dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasional di Padang, Rabu (7/2/2018).

Anas mencontohkan, banyak festival berbasis adat yang lahir dari masyarakat. Disini peran pemerintah tinggal memfasilitasi. "Jadilah festival spektakuler yang mendatangkan ribuan orang, menggerakkan ekonomi rakyat secara langsung," ungkapnya dalam rilis yang diterima detikcom.

Contoh festival berbasis tradisi rakyat yang digelar di Banyuwangi antara lain Festival Gandrung Sewu, Tumpeng Sewu, ritual Kebo-keboan, dan Tari Seblang. "Semua itu menyedot ribuan wisatawan setiap pergelarannya," imbuhnya.

Dengan konsep partisipasi tersebut, tumpuan pariwisata ada di masyarakat desa. Itulah mengapa Banyuwangi juga intens menggerakkan wisata berbasis desa yang sekaligus dijadikan sebagai alat pemerataan pembangunan. "Ternyata itu efektif, ada desa wisata berbasis seni-budaya, berbasis wisata bahari, berbasis wisata alam, berbasis hasil pertanian, dan sebagainya," ujar Anas.

Pengembangan wisata berbasis desa juga membuat Indeks Desa Membangun (IDM) Banyuwangi dari Kementerian Desa menjadi yang terbaik kedua di Jawa Timur. Banyuwangi tercatat berhasil meningkatkan jumlah desa yang masuk kategori "desa maju" dari yang sebelumnya hanya 40 desa (2010) menjadi 134 desa (2016). Jumlah "desa tertinggal" di Banyuwangi pun kini tinggal satu desa saja.

Anas menambahkan, dengan berbasis partisipasi masyarakat, semua potensi warga dikerahkan. "Kita berangkat bareng-bareng dari nol. Misalnya cara bakar ikan yang baik, warung-warung kita latih. Kita latih warga yang buka homestay, bagaimana penataan toilet, bagaimana melipat seprai. Bahkan ada kursus bahasa asing gratis untuk sekitar 3.000 warga desa tiap tahunnya. Susah, tapi ya harus dilakukan untuk membuat pengembangan pariwisata ini berakar di masyarakat," jelas Anas.

Berkat pariwisata, ekonomi Banyuwangi pun bertumbuh. Kunjungan turis domestik meningkat dari 497.000 orang (2010) menjadi 4,01 juta orang (2016). Adapun jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Banyuwangi meningkat dari 5.205 orang (2010) menjadi 74.800 orang (2016).

Hal ini berimbas positif pada peningkatan pendapatan per kapita warga Banyuwangi yang mencapai dua kali lipat, dari yang semula Rp 20,8 juta (2010) menjadi Rp 41,5 juta per orang per tahun (2016).

Angka kemiskinan di kabupaten paling timur di Jawa Timur itu juga turun cukup pesat di level 8 persen, mendekati rata-rata provinsi yang masih di atas 11 persen. (lll/iwd)