Siswa kelas IX ini bahkan berhasil meraih juara dua tingkat nasional mengalahkan 375 peserta lainnya. Kacamata ini dinilai lebih praktis dan efisien daripada alat bantu tongkat.
"Kalau tongkat ketemu objek, tidak tahu kemana," tutur Galang Nurbudi Utomo saat ditemui detikcom di SMPN I Jetis, Jalan Raya Trenggalek - Ponorogo, Senin (8/1/2017).
Menurutnya, alat ini lebih efisien dan praktis penderita tunanetra tidak perlu lagi bantuan orang lain saat beraktivitas. Misalnya, saat berjalan ada benda atau orang di sebelah penderita tunanetra, maka kacamata yang dipakai akan mengeluarkan narasi yang terhubung ke headset yang dipakai.
Kacamata Cerdas Pembantu Tunanetra/ Foto: Charolin Pebrianti |
"Jadi cara pakainya kacamata dipakai disambung ke power bank dan dipakai headset, nanti kalau ada objek di sekitar penderita tunanetra, ada warning dari headset," jelasnya.
Galang pun menambahkan alat-alat yang dipakai mulai dari sensor, ultrasonic 3 buah untuk mendeteksi objek mengeluarkan gelombang, micro controler arduino sebagai pusat pengendali diteruskan ke DF Player yang disambungkan ke power bank sebagai daya. Kemudian ada pula Micro SD berisi suara perintah dan terakhir speaker yang ditaruh ditelinga pengguna.
"Peralatan semua beli secara online dan menghabiskan Rp 250 ribu," terangnya.
Galang menambahkan saat membuat alat ini, ia menemui kesulitan saat pemrograman. Program sering error jika jarak terlalu dekat. "Jarak 1,5 meter dari obyek baru ada narasi," imbuhnya.
Sementara Dwi Sujatmiko, guru pembimbing menambahkan untuk membuat alat ini dibutuhkan waktu selama 3 bulan. "Pernah diujicobakan ke penderita tunanetra, katanya sangat membantu," pungkasnya. (fat/fat)












































Kacamata Cerdas Pembantu Tunanetra/ Foto: Charolin Pebrianti