DetikNews
Senin 18 Desember 2017, 21:03 WIB

Kemensos akan Cek Kebenaran Nenek Meninggal Diduga Kelaparan

Rois Jajeli - detikNews
Kemensos akan Cek Kebenaran Nenek Meninggal Diduga Kelaparan Foto: Yakub Mulyono
Jember - Nenek Tumirah (60) warga Dusun Krajan Kulon, Desa Paleran, Kecamatan Umbulsari, Jember, meninggal dunia karena diduga kelaparan. Kementerian Sosial akan turun ke lapangan, untuk mengecek kondisi yang terjadi.

"Bisa jadi ada kejadian seperti ini, layanan rehabilitasi di Ditjen Rehabilitasi Sosial untuk mengadakan kunjungan," kata Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat kepada wartawan di sela acara PKH Appreciation Day 2017 di Hotel Vasa, Surabaya, Senin (18/12/2017).

Ia mengatakan, temuan tersebut bukan wewenangnya Ditjen Perlindungan dan Jaminan Sosial. Namun, wewenang dari Ditjen Rehabilitasi Sosial (Rehsos).

"Tolong kabar itu sampaikan ke saya. nanti saya forward ke Rehsos," ujarnya.

Menurutnya, jika memang nenek Tumirah warga Jember itu meninggal dunia karena kelaparan, Kemensos akan memberikan santunan.

"Bahkan diketahui meninggal dunia dengan alasan tertentu, Kemensos bisa memberikan santunan untuk ahli warisnya," terangnya.

Hikmat menerangkan, kasus yang dialami nenek Tumirah, juga sering ditemui di beberapa daerah di Indonesia lainnya seperti di Yogyakarta, Sumatera, Kalimantan.

"Kasus begini berarti ada lanjut usia yang mungkin hidupnya terlantar oleh keluarganya, sehingga hidupnya kelaparan," ujarnya.

"Kita sering menemukan di lapanga seperti di Yogya, Kalimantan, Sumatera. Para lansia yang ditinggalkan sanak keluarganya sampai hidup sendiri dan dikasih makan oleh tetanggannya, atas kepedulian tetangganya," katanya.

Hikmat menerangkan, di program keluarga harapan (PKH) ada PKH khusus lansia. Program ini tujuannya untuk mencover kasus seperti ini dan mencegah agar tidak terulang kasus seperti di Jember.

"Sebetulnya, kalau pendampingnya tahu sejak awal itu segera dimasukkan ke PKH Lansia di tahun lalu. Itulah pentingnya PKH," tuturnya.

Dia juga meminta para pendamping PKH di daerah-daerah lainnya, juga ikut menyisir para lansia, agar tidak terjadi kasus seperti lansia meninggal kelaparan.

"Pendamping harus menyisir, karena ada slot reguler bagi fakir miskin pada umumnya. Ada PKH lansia yang diprioritaskan 70 tahun ke atas. Keadaan melarat, hidup sendiri, tidak ada sanak saudara atau ada sanak saudara, tapi ditelantarkan. Ini bisa ditambahkan ke PKH," terangnya.

Ada opsi lain atas temuan lansia yakni, dimasukkan ke panti lansia. "Kalau ada panti lagi open, bisa dimasukkan. Kalau nggak ada, waiting list. Pendamping PKH bisa membantu di rumahnya. Nah masalahnya, siapa yang mengurusnya. Itu dinas sosial yang menetapkan walinya," terangnya.

Hikmat mengatakan, pada acara PKH Appreciation Day 2017, adal salah satu presentasi yang disampaikan pendamping yakni, melakukan pendampingan pada keluarga lansia.

"Pendamping sekaligus memberikan perawatan, memberikan makanan, ikut membantu membelanjakan, bahkan sampai masakin (ikut memasak)," jelasnya.
(roi/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed