Nasron, Penderita Asam Urat Tinggi Dijenguk Kapolres Probolinggo

M Rofiq - detikNews
Jumat, 20 Okt 2017 08:48 WIB
Foto: M Rofiq
Foto: M Rofiq
Probolinggo - Penderita asam urat tinggi hingga tangan dan kakinya bengkak asal Probolinggo, belajar duduk. Meski terasa nyeri dan harus dibopong, Nasron Azizah (27) tetap berusaha duduk dengan nyaman.

Kondisi Nasron yang menderita asam urat tinggi sejak usia 17 tahun hingga keluar pesantren dan sekolah, menjadi perhatian Kapolres Probolinggo, AKBP Fadly Samad. Kedatangan Kapolres Fadly ke Dusun Manggisan, Desa Seneng, Kecamatan Krucil, itu didampingi petugas Dokter Kesehatan Polisi (Dokkes) Polres Probolinggo.

Nasron yang hanya bisa terbaring lemah itu diperiksa kondisi kesehatan dan asam uratnya. Nasron bersyukur tim dokkes Polres Probolinggo memeriksanya. Nasron sendiri tidak menyangka, keluarganya mendapat tamu penting di wilayah hukum Polres Probolinggo. Dia pun berkeinginan penyakitnya sembuh total.

Baca Juga: Menderita Asam Urat Akut, Tangan Nusron Berubah jadi Begini

"Saya tidak menyangka, kalau pak Kapolres (AKBP Fadly Samad) datang dan menjenguk saya," kata Nasron di hadapan kapolres, Jumat (20/10/2017).

Apalagi, sejak kecil Nasron hanya tinggal bersama kakek dan neneknya setelah ibu kandungnya meninggal dunia. "Ibu saya sudah meninggal dan bapak saya kawin lagi," tambah Nasron.

"Karena biaya yang saya tidak punya ini. Tapi Alhamdulillah, kapolres sudah datang dan menjenguk saya," jelasnya

Sementara di rumah Nasron, Kapolres Fadly memberi semangat ke pria yang sudha menderita asam urat tinggi sejak 10 tahun lalu.

"Harus semangat menghadapi sakit ini. Ini adalah ujian dan cobaan. Kalau adik (Nasron) kuat menghadapi ujian ini, Insya Allah bakal ada kesuksesan," jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Kapolres Probolinggo dan rombongan memberikan bantuan kepada Nasron berupa bingkisan dan sejumlah uang.

"Semoga para keluarga, khususnya kakek (Kakeknya Nasron) kuat dan tabah dalam menghadapi cobaan ini," ungkapnya.

Jari tangan dan kaki Nasron Azizah (27) mulai membesar sejak 10 tahun lalu. Nasron yang saat itu berusia 17 tahun memilih putus sekolah dan keluar dari pesantren di kawasan Kecamatan Krejengan. Kian hari benjolan yang ada di tangan dan kakinya membesar. Bahkan sering keluar nanah dan cairan warna putih. Keluarganya sempat membawanya ke pengobatan alternatif, namun tidak membuahkan hasil.
(fat/fat)