Meski Tunarungu dan Tunawicara, Guru Muda ini Terus Berkarya

Michelle Alda - detikNews
Jumat, 25 Agu 2017 13:20 WIB
Sebastian Hadi, guru penyandang disabilitas (Foto: Michelle Alda)
Surabaya - Keterbatasan dalam berbicara dan mendengar tak membuat seorang Sebastian Hadi (27) merasa minder. Ia terus belajar dan bahkan menciptakan karya.

Bahkan Sebastian kini menjadi seorang guru. Sebagai guru, ia tak pelit membagikan ilmu dan talentanya. Sebastian kini mengajar sebagai guru seni rupa di Sekolah Dasar Teologi Kristen (SDTK) Pelangi Kristus, Surabaya. Selain guru, ia juga bertugas sebagai admin desain.

Sebastian memulai karirnya di SDTK Pelangi Kristus pada Oktober 2013. Ia langsung ditunjuk menjadi admin desain. Tahun 2014, ia dipercaya untuk mengajar seni rupa untuk kelas 3 dan 4 SD.

"Di sini saya bekerja sebagai admin desain, yang membuat brosur, ijazah, power point acara sekolah, dan hal-hal lainnya yang membutuhkan desain. Kemudian pada tahun 2014 saya dipercaya untuk mengajar," ujarnya dengan pelan saat berbincang dengan detikcom, Jumat (25/8/2017).

Baca juga, Meski Tunarungu dan Tunawicara, Guru Muda ini Terus Berkarya

Karena mempunyai keterbatasan berbicara, Sebastian berusaha untuk menyampaikan pesan dengan cara lisan, walaupun perlahan.

Saat mengajar, Sebastian berkomunikasi dengan anak-anak menggunakan power point. "Dulu aku pakai kertas untuk berkomunikasi sama mereka, tapi sekarang aku pakai power point," ujar Sebastian sambil menunjukkan slide power pointnya.

Walaupun Sebastian memiliki keterbatasan fisik, namun anak-anak yang diajar tetap memperhatikan apa yang disampaikan oleh gurunya itu.

Sebastian saat melakukan komunikasi dengan tulisanSebastian saat melakukan komunikasi dengan tulisan Foto: (Michelle Alda)


"Menjadi guru disini adalah pengalaman pertama saya mengajar. Hal ini membuat saya awalnya gugup. Awalnya keterbatasan saya membuat saya sedikit minder," ujar Sebastian mengawali kisahnya melalui tulisan.

Bahkan Sebastian pernah mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari salah satu anak didiknya. Saat mengakhiri pelajaran, biasanya anak-anak mengucapkan terima kasih kepada guru mereka. Namun, ada satu anak yang tidak mau mengucapkan terima kasih karena baginya percuma mengucapkan terimakasih kepada guru tunarungu seperti Sebastian.

Awalnya Sebastian tidak tahu bahwa ia diperlakukan seperti itu oleh anak didiknya. Namun, setelah anak-anak itu pulang, ketua kelas yang tadinya diajar oleh Sebastian datang ke kantor guru dan melaporkan kejadian yang dialami di kelas sambil menangis. Tangisan ketua kelas itu membuat Sebastian tahu bahwa ia sempat direndahkan oleh salah seorang anak didiknya.

"Ketua kelasnya dekat dengan saya, makannya mungkin itu sebabnya dia menangis," ujar Sebastian secara lisan dan dengan bahasa tubuhnya.

Melihat sang ketua kelas menangis, Sebastian diliputi rasa haru yang luar biasa. "Saya terharu melihat ketua kelas itu memperlakukan saya seperti ia memperlakukan guru-guru normal lainnya," ujarnya melalui secarik kertas.

Meskipun terlahir tunarungu sekaligus tunawicara, Sebastian ingin diperlakukan seperti orang normal. "Saya tidak suka diperlakukan berbeda dengan orang lain. Saya ingin diperlakukan sama seperti orang normal," curhatnya.

Perlakuan tak menyenangkan dari seorang muridnya, tak membuat Sebastian merasa hancur dan tetap mengajar hingga sekarang. "Menjadi guru adalah passion saya dan saya bersyukur bisa melayani di sekolah ini. Saya senang melihat anak-anak bertumbuh," pungkasnya.

"Iya, dia cerdas sekali," ujar Ratna (46), salah satu rekan kerja Sebastian. Tak hanya rekan kerja, anak didik Sebastian, Fili (10), Kezia (9), dan Joice (9) juga mengaku senang diajar oleh pria berkacamata itu.

"Iya senang, kami belajar banyak dari Mr. Sebastian," ujar mereka.

Salah satu yang diajarkan SebastianSalah satu yang diajarkan Sebastian (Foto: Michelle Alda)
(iwd/iwd)