Kasubbag Humas Polres Mojokerto AKP Sutarto mengatakan, pemeriksaan 67 preman oleh Sat Reskrim selesai, Selasa (4/4) sekitar pukul 20.00 Wib. Tak seorang pun dari puluhan preman itu ditetapkan sebagai tersangka. Sebelum dipulangkan, para pria yang mayoritas bertato itu sempat dibina oleh petugas.
"Sementara mereka kami kembalikan ke kepala desa masing-masing," kata Sutarto kepada detikcom, Rabu (5/4/2017).
Sutarto menjelaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan, puluhan preman tersebut merupakan orang bayaran yang diduga dikerahkan pimpinan LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Mojokerto, Rudi Wahyudiana.
"LIRA diminta oleh perusahaan (PT BNM) untuk menguasai portal, rencananya menjebol portal. Informasinya per orang dibayar Rp 100 ribu," ungkapnya.
Oleh sebab itu, tambah Sutarto, pihaknya akan memanggil Rudi untuk dimintai keterangan. "Yang menggerakkan yang bisa kena pidana. Namun, masih belum tahu pasal apa, nanti setelah pemeriksaan," imbuhnya.
Baca Juga: Ricuh dengan Warga di Mojokerto, Puluhan Preman Diamankan
Sejak 7 Maret 2017, warga Desa Sumolawang, Medali dan sekitarnya mensweeping truk dan kontainer yang keluar-masuk PT BNM di Desa Medali. Warga menghadang bahan baku karet mentah agar tak bisa masuk ke pabrik. Dengan begitu, pabrik tak bisa berproduksi.
Aksi warga ini menyusul adanya SK Bupati Mojokerto akhir Desember 2016. SK tersebut mencabut izin gangguan (HO) dan menutup PT BNM lantaran dianggap mengganggu warga 17 desa di Kecamatan Puri dan Sooko dengan bau tak sedap yang dihasilkan. Saat ini SK Bupati sedang didugat oleh pabrik karet di PTUN Surabaya.
Namun, kericuhan terjadi di Desa Medali, Selasa (4/4) siang. Ratusan warga memukuli puluhan preman yang akan melawan aksi warga. Para preman dari Kecamatan Jetis, Gedeg dan Kemlagi itu diamankan polisi dari kepungan warga.
Dikonfirmasi terkait persoalan ini, Rudi mengaku sedang menghadiri panggilan Polres Mojokerto. Dia belum bisa memberikan klarifikasi lantaran sedang diperiksa oleh penyelidik.
"Saya di polres, di-BAP (diperiksa untuk berkas acara penyidikan)," katanya dalam pesan singkat yang diterima detikcom.
Sementara Ketua Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) Desa Medali, Aqib Ma'rufin mendesak polisi menuntaskan kasus premanisme yang mengakibatkan situasi di Desa Medali memanas.
"Kami meminta polisi segera menemukan aktor intelektual di balik aksi premanisme tersebut dan menindak sesuai undang-undang yang berlaku," tandasnya. (fat/fat)










































