Mengintip Isi Museum 'Rumah Air Surabaya' di Lahan Sengketa

Mengintip Isi Museum 'Rumah Air Surabaya' di Lahan Sengketa

Rois Jajeli - detikNews
Rabu, 11 Jan 2017 09:04 WIB
Mengintip Isi Museum Rumah Air Surabaya di Lahan Sengketa
Foto: Budi Sugiharto
Surabaya - Museum 'Rumah Air Surabaya' di Jalan Basuki Rahmat (Basra) No 121 memang belum dibuka. Masyarakat juga tidak tahu jika di gedung cagar budaya aset PDAM ini telah disulap menjadi tempat wisata edukatif.

Tapi tak lama lagi, PDAM Surya Swasembada akan membukanya untuk umum. Dan proses persiapan menjadi wahana pembelajaran publik dilakukan secara diam-diam karena diharapkan menjadi kejutan di awal tahun 2017.
Foto: Budi Sugiharto

"Kami akan memberikan surprise untuk Bu Wali ( Wali Kota Tri Rismaharini) dan ini kado tahun baru untuk warga Surabaya," jelas Sekretaris Perusahaan PDAM Surya Sembada Sayid M Iqbal saat bincang-bincang dengan detikcom, Rabu (11/1/2017).

Baca Juga: Gedung Cagar Budaya Eks BKR milik PDAM di Basra Terancam Hilang

Keberadaan 'Rumah Air Surabaya', kata Iqbal, akan melengkapi Kota Surabaya yang sudah memiliki Rumah Bahasa, Rumah Matematika dan yang lain-lainnya. Sesuai jadwalnya, "Rumah Air Surabaya' yang menempati gedung cagar budaya eks markas Badan Keselamatan Rakyat (BKR) diresmikan di awal tahun ini.
Foto: Budi Sugiharto

PDAM bermimpi 'Rumah Air Surabaya' ini menjadi tempat edukasi tentang lingkungan hidup, khususnya air. Di tempat ini dijelaskan tata cara pengolahan air, apa manfaat air, informasi tentang PDAM, bagaimana air mengalir dari Umbulan hingga ke warga Surabaya mulai dari zaman dikelola Belanda sampai saat ini mempergunakan teknologi air untuk masa depan.

Baca Juga: Keren, Museum 'Rumah Air Surabaya' Ada di Cagar Budaya PDAM Basra

'Rumah Air Surabaya' yang dikonsep museum ini didesain cukup apik dan menarik. Menempati gedung sisi selatan, di ruang depan atau lobi sudah disambut dengan lukisan tentang bangunan sejarah Pintu Air Jagir pada pilarnya. Lukisan air sungai yang mengalir juga digambarkan hingga ke lantai dan bagan dalam museum.
Foto: Budi Sugiharto

Kemudian dua pintu yang masing-masing untuk masuk dan keluar menghiasi bangian depan. Pintu itu desain setengah lingkaran, menyerupai mulut goa. Dari depan terpampang poster besar tentang riwayat perjalanan PDAM.

Uniknya, di bagian lantai dibuat alur yang menyerupai instalasi pipa air yang memandu pengunjung menuju ke spot-spot di dalamnya. "Kan ini satu arah, jadi kita pandu dengan model instalasi jaringan pipa air di lantainya," jelas Iqbal didampingi Humas Ari Bimo Sakti dan Kabag Hukum M Riski.
Foto: Budi Sugiharto

Di dalam museum ini yang lahannya dalam sengketa karena banyak diklaim milik perorangan itu, pengunjung bisa mendapatkan berbagai peralatan pengolahan air mulai dari zaman Belanda seperti mesin pompa, voltmeter (alat pengukur tegangan listrik), gembok kuno, hingga bel alarm tekanan air, pompa air besar hingga peta kota Surabaya tempo dulu.
Foto: Budi Sugiharto

Di dinding-dinding juga terpampang informasi tentang peralatan zaman dahulu beserta penjelasannya sepeti meter kuno. PDAM juga melengkapi penjelasan tentang pengertian dan proses terjadinya pencemaran air.

Setelah berjalan menyusuri gedung dari pintu sisi selatan, akan tembus ke pintu sisi utara. Di lorong ini terpampang foto yang menampilkan pintu air Jagir Wonokromo hingga kran air yang modern. Pompa air yang digunakan era sekarang, pakaian petugas PDAM di lapangan hingga miniatur komplek bangunan pengolahan air PDAM.
Foto: Budi Sugiharto

"Foto Pintu Air Jagir jaman dulu ini dicetak besar karena agar bisa untuk foto selfie," tambah Air Bimo. (roi/ugik)
Berita Terkait