Retakan Tanah di Jember Sepanjang 200 Meter Rawan Longsor

Retakan Tanah di Jember Sepanjang 200 Meter Rawan Longsor

Yakub Mulyono - detikNews
Jumat, 09 Des 2016 13:49 WIB
Retakan Tanah di Jember Sepanjang 200 Meter Rawan Longsor
Retakan tanah di Jember rawan longsor/Foto: Yakub Mulyono
Jember - Retakan tanah di perkebunan Kalijompo, Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, membahayakan warga sekitar. Retakan sepanjang 200 meter itu, sementara ditutup plastik agar air yang mengalir tidak masuk ke lubang. Karena jika dibiarkan, dikhawatirkan retakan itu akan semakin meluas hingga terjadi longsor.

Wakil Ketua DPRD Jember Ayub Junaidi bersama Administratur Perhutani Jember, Djohan Surjo Putro, sempat meninjau lokasi retakan tanah tersebut.

Menurut Djohan, lebar retakan di lokasi ini sekitar 50 cm dengan kedalaman diperkirakan 1 meteran bahkan bisa lebih. "Retakan ini sengaja ditutup plastik putih panjang. Hal itu dilakukan agar retakan ini tidak dimasuki oleh air yang mengalir," kata Djohan di lokasi, Jumat (9/12/2016).

Kebetulan di tengah-tengah retakan ada sumber air. Jika tidak ditutup dengan plastik, maka air yang mengalir itu akan masuk ke tanah melalui retakan tersebut. Retakan ini akan terisi dengan air baik dari sumber maupun dari aliran air hujan. Jika sudah penuh, Djohan mengkhawatirkan resiko mengalami longsor akan semakin besar.

"Untuk pemasangan plastik ini, sifatnya pencegahan sementara saja. Nantinya air bisa langsung mengalir ke bawah dan tidak masuk ke retakan. Sehingga untuk sementara akan dapat mengurangi risiko terjadi longsor. Karena jika terjadi longsor, tentu saja, kerugian yang dialami akan cukup besar," jelasnya.

Dia menuturkan, meski diketahui dan ditemukan di Kalijompo retakan 200 meter, dampaknya akan sangat dahsyat. Jika terjadi longsor, maka 3-4 hektare tanah di atasnya ikut tergerus longsor ke bawah. "Itu jika dilihat dari sisi permukaan, belum dari sisi ketebalan tanah yang akan tergerus longsor," tambahnya.

Jika dibiarkan, longsor ini akan berdampak ke sisi hilir. Karena tanah longsor akan mencapai jutaan kubik sekaligus sehingga bisa jadi bencana alam di Jember. Oleh karena itu, persoalan tersebut perlu adanya sinergi untuk penanganannya.

"Para ahli teknik sipil dan teknik lingkungan yang berkait harus bersatu untuk membahas ini dan mencegah bencana alam ini," sarannya.

Apalagi daerah Panti dan Sukorambi ini sangat rawan longsor. Menurut Djohan, penanganan tidak bisa dilakukan lingkungan sekitar saja, tapi juga melibatkan pihak terkait dan akademisi. "Penyelesaian yang dilakukan harus secara bersama-sama. Keterlibatan Pemkab Jember sangat penting," tegasnya.

Ayub yang ikut turun ke lokasi menuturkan jika retakan ini diakuinya cukup membahayakan. Apalagi, di daerah hilir banyak sekali perumahan penduduk. "Saya berharap segera ada langkah tanggap dan cepat dari Pemkab Jember untuk mengatasi masalah retakan ini. Karena ini sangat membahayakan," ungkap Ayub.

Dia berharap, langkah dan penanganan ini bisa dilakukan segera dan cepat. Apalagi curah hujan di Jember dalam beberapa waktu ini cukup tinggi.

"Harus dilakukan pencegahan sesegera mungkin untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan," pungkas Legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini. (fat/fat)
Berita Terkait