Ini Riset Mahasiswa ITS Tentang Pentingnya Kapal Selam Tanpa Awak

Imam Wahyudiyanta - detikNews
Selasa, 23 Agu 2016 19:03 WIB
Foto: Imam Wahyudiyanta
Foto: Imam Wahyudiyanta
Surabaya - Besarnya potensi bawah laut perairan Indonesia memerlukan perhatian khusus baik dalam hal ekplorasi maupun penjagaan. Hal inilah yang mendorong Teguh Herlambang meneliti robot kapal selam jenis Autonomus Underwater Vehicle (AUV) guna mengeksplorasi potensi bawah laut Indonesia.

Berkat penelitiannya, ia secara resmi berhasil meraih gelar doktor dari Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Diakui Teguh, riset tentang kapal selam tanpa awak memang tengah menarik minat banyak peneliti beberapa tahun belakangan. Banyaknya masalah dan kendala dalam melakukan survei bawah laut adalah salah satu faktor kuat yang mendorongnya.

"Padahal monitoring bawah laut perlu dilakukan secara berkala dan teratur untuk memperoleh data yang akurat," terang alumni Jurusan Matematika ITS ini dalam siaran pers yang diterima detikcom, Selasa (23/8/2016).

Bertempat di Aula BG Munaf FTK ITS, Teguh memaparkan desain dan analisa sistem gerak yang ia rancang untuk mengendalikan AUV. "Dengan sistem ini, AUV dapat berlaku sebagai kapal selam tanpa awak yang dapat bergerak secara otomatis," tutur pria yang kini sedang bertugas sebagai dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) ini.

Dengan AUV, banyak pekerjaan yang semula sukar menjadi lebih mudah. Misalnya dalam hal memantau korosi pada bagian bawah kapal atau pencarian korban kecelakaan pesawat yang jatuh ke laut.

"AUV memanfaatkan citra khusus untuk menganalisa objek yang diamati," terang bapak dua anak ini.

Sedangkan dalam rangka mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, AUV dapat membantu dalam membuat pemetaan dasar laut, mengoleksi sampel geologi hingga pemantauan oseanografi. AUV juga akan banyak berguna untuk menjaga kelestarian lingkungan, misalnya dengan inspeksi struktur bawah air.

Dalam industri minyak dan gas, AUV dapat membantu survei laut dan penilaian sumber daya. Sedangkan dalam ranah militer, kapal selam tanpa awak ini dapat digunakan sebagai peralatan sistem pertahanan bawah laut.

Belum merasa puas dengan pencapaiannya, Teguh berencana mengombinasikan penelitian ini dengan penelitiannya saat menempuh program Magister.

"Saya berharap kapal selam tanpa awak ini dapat dikombinasikan dengan pesawat tanpa awak yang telah saya teliti sebelumnya, sehingga akan menghasilkan dua sistem canggih yang terbungkus dalam satu alat saja," pungkasnya. (iwd/fat)