Agustusan di Banyuwangi, Upacara 'Wong Deso' di Kaki Gunung Hingga Gaya Nelayan

Ardian Fanani - detikNews
Rabu, 17 Agu 2016 16:08 WIB
Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Sejumlah warga di Banyuwangi memiliki cara dan gaya tersendiri untuk memperingati detik-detik proklamasi kemerdekaan ke 71 Republik Indonesia.

Seperti halnya yang dilakukan nelayan Pantai Watudodol, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi menggelar upacara di tepi pantai, Rabu (17/8/2016).

Menariknya, upacara yang kali pertama digelar nelayan ini juga diikuti penggiat wisata dan wisatawan yang sedang berkunjung di Pantai Watudodol dan Bangsring Boat.

Foto: Ardian Fanani
Tak lupa, para nelayan itu membawa alat untuk melaut seperti pancing dan jala serta masing-masing peserta upacara mengenakan pelampung keselamatan pula.

Sementara petugas pengibar bendera dan petugas upacara dari Kesatuan Polisi Perairan (Satpolair) Polres Banyuwangi.

"Ini kita lakukan pertama kali upacara bendera peringatan Kemerdekaan RI di pinggir pantai. Kita mengajak nelayan dan penggerak wisata serta wisatawan juga," ujar Kasatpolair Polres Banyuwangi AKP Subandi kepada wartawan usai upacara.

Menurut Subandi, kegiatan peringatan upacara Kini sebagai media memupuk cinta tanah air Indonesia. Tak lupa, Satpolair juga memberikan sosialisasi kepada nelayan untuk mengantisipasi peredaran narkoba dan terorisme melalui pelabuhan rakyat.

"Kita lakukan pula sosialisasi pelarangan bom ikan dan peredaran narkoba serta terorisme," pungkasnya.
Foto: Ardian Fanani

Tak hanya kegiatan upacara peringatan kemerdekaan, usai kegiatan tersebut digelar lomba memancing di Selat Bali yang memperebutkan piala Kapolres Banyuwangi.

"Ikut upacara terus ikut lomba mancing. Merdeka Indonesiaku semoga rejeki dapat ikan dan menang lomba," teriak Sanuri, nelayan asal Bangsring.

Sementara itu, upacara bendera juga digelar warga Dusun Pasar, Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon di kaki Gunung Raung. Upacara digelar dengan sederhana.

Karena peserta upacara dari segala umur dan pekerjaan, pelaksanaan pun jadi terlihat lebih unik. Anak - anak hanya mengenakan pakaian sehari - hari, tak ada yang mengenakan seragam.
Foto: Ardian Fanani

Bahkan, mereka yang sedang menggarap sawah pum tetap mengenakan pakaian yang masih belepotan lumpur serta lengkap dengan caping dan alat pertanian, seperti sabit, cangkul serta tangki semprot. Kebanyakan mereka hanya menggunakan sandal jepit atau tanpa alas kaki.

Tapi jangan salah, meski dengan dandanan ala kadarnya dan baru yang pertama, upacara 'wong ndeso' yang jauh dari keramaian kota ini tak kalah khidmat dengan yang digelar pihak kecamatan atau kabupaten.

"Sebagai inspektur upacara adalah tokoh masyarakat. Dan undangan yang dihadirkan juga kalangan tokoh dan ulama. Sedang petugas upacara adalah kalangan kawula muda," ujar Sanemo, tokoh masyarakat Desa Songgon.

Foto: Ardian Fanani
Dalam upacara kemerdekaan para 'wong cilik' ini, suasana mengharukan terasa begitu komandan upacara membubarkan barisan. Para ibu kembali melanjutkan aktivitas rumah tangga, anak - anak lanjut bermain dan para petani kembali ke sawah.

"Seneng bisa upacara begini, sebenarnya kita sudah lama pingin ikut upacara," kata Suparno yang kembali ke sawahnya usai upacara. (ugik/ugik)