Telinga Nenek Lasiyem Habis Dimakan Belatung karena Tumor Kulit

Muh. Taufiq Sidqi - detikNews
Rabu, 17 Feb 2016 16:06 WIB
Foto: Muh. Taufiq Sidqi
Ponorogo - Menderita tumor kulit selama 8 tahun membuat nenek di Ponorogo nyaris kehilangan daun telinga kiri. Telinga kiri Lasiyem (79) habis dimakan belatung.

Lasiyem hidup seorang diri di sebuah gubuk kayu berukuran 3x4 milik Perhutani. Lasiyem harus pasrah menerima keadaan lantaran usahanya berobat tidak membuahkan hasil.

Kondisinya itu bermula dari kemunculan tahi lalat di telinga sebelah kiri. Lama kelamaan membesar hingga akhirnya dimakan belatung. Dia  sengaja tidak memeriksakan diri ke dokter karena tidak ada biaya.

Kondisi telinga dan pipi kirinya semakin parah. Lasiyem kemudian memeriksakan diri ke puskesmas, namun pihak puskesmas angkat tangan dengan panyakit yang dideritanya. Bahkan sekedar obat penghilang nyeri tidak juga diterima.

Mendapati keadaan ini, Lasiyem kemudian nekat menjual kambing. Satu-satunya harta benda yang ia miliki untuk modal berangkat ke Surabaya, dengan tujuan berobat ke RSU Dr Soetomo. Namun Lasiyem harus menerima kenyataan pahit, pihak rumah sakit tidak memberikan perawatan seperti yang diharapkan.

"Sakit tumor, ya diobatkan wong ndak ditangani di Surabaya niku, di tempatnya pak sutomo (RSU dr Soetomo-red) dereng ditangani namung di tas tes, tigang wulan lo pak namung habiskan sangu. Ya diobatkan tetapi tidak ditangani, di RSU dr Soetomo, hanya dites saja, tiga bulan hanya menghabiskan uang saku," ujar Lasiyem, Rabu (12/2/2016).

Setelah tiga bulan tanpa hasil, Lasiyem kemudian memutuskan  pulang ke Ponorogo, karena uang hasil penjualan kambing miliknya habis untuk biaya sehari-hari selama di Surabaya.

Meski menderita tumor kulit ganas yang hampir menghabiskan daun telinga dan pipi sebelah kirinya, Lasiyem tak lantas membuatnya menyerah dalam hidup dengan mengharap belas kasih orang.

Selain mendapat jatah raskin sebulan sekali dari pihak desa, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, nenek yang hidup sebatang kara ini, bercocok tanam di lahan milik Perhutani dengan syarat merawat tanaman milik Perhutani. Hasil dari bertani dijual ke pasar setempat.

"Menawi teng pasar ditutupi (Jika ke pasar ditutupi), nggeh ngeteniki wontenipun mas (Ya seperti ini keadaannya mas)," jelas Lasiyem.

Disisa hidupnya ini, Lasiyem masih berharap penyakit yang dideritanya ini bisa sembuh. Sebab, sesekali muncul belatung dari lukanya. Selain itu, saat kambuh, rasa sakit yang teramat sangat dirasakan hingga punggungnya. (fat/fat)