Mereka yang sebelumnya ada yang tidak pernah bertemu akhirnya saling bersua dan saling sapa. Perkenalan dan keakraban pun tercipta. Mereka bersenda gurau dan saling curhat.
"Ini adalah apresiasi kami kepada para driver perempuan di hari ibu ini," ujar Operational Team Go-Jek Surabaya Candra Noviandi kepada detikcom di Kedai Tua Baru, Jalan Tegalsari, Selasa (22/12/2015).
Candra mengatakan, kegiatan ini diharapkan bisa memacu keaktifan driver selain lebih mempererat persaudaraan antara driver. Namun tidak semua driver dihadirkan. Hanya lima driver yang diajak ikut berkumpul sebagai perwakilan. Go-Jek Surabaya sendiri mempunyai 300 driver perempuan diantara 15-20 ribu driver yang ada.
Iis Indrawati sudah lima bulan bergabung dengan Go-Jek. Sebelumnya Iis adalah ibu rumah tangga. Hobi dan waktu senggang adalah alasan perempuan 33 tahun itu bergabung dengan Go-Jek.
"Saya itu suka keluyuran. Saya juga sering dimintai tetangga mengantarkan ke pasar. Pas ada tawaran dari Go-Jek, kenapa tidak saya ambil," ujar Iis.
Awal bergabung dengan Go-Jek, dalam satu hari Iis bisa mengumpulkan uang Rp 200-300 ribu dari 8-10 pelanggan. Tetapi dengan bertambah banyaknya driver yang membuat persaingan semakin ketat, Iis pun tak ngoyo dan terkadang hanya mndapat 1-2 pelanggan, itu pun selama seminggu.
"Ada sih tawaran dari yang lain. Tetapi di sana harus stand by terus, nggak bisa santai," kata perempuan asal Sono Indah tersebut.
Sementara itu, Siti Aisyah mempunyai alasan lain saat memutuskan gabung Go-Jek. Kehilangan motor adalah alasan pertamanya bergabung dengan Go-Jek, selain karena warung kopinya yang mulai sepi pelanggan.
"Saya kehilangan motor awal puasa lalu, suami juga di-PHK," ujar Siti.
Motif ekonomi adalah alasan perempuan 36 tahun itu bergabung dengan Go-Jek. Sudah empat bulan Siti bergabung dengan Go-Jek. Awal gabung Go-Jek atau saat dua bulan pertama, Siti bisa mengantarkan hingga 8 pelanggan setiap hari.
Namun dua bulan berikutnya, pendapatan Siti berkurang seiring dengan makin banyaknya driver yang bergabung. Dalam dua bulan berikutnya, Siti hanya bisa mendapat satu pelanggan setiap hari.
"Tapi saya menikmati saja profesi ini," pungkas Siti.
Meski berperan sebagai salah satu tulang punggung keluarga, baik Iis dan Siti tidak melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan. Iis mempunyai tiga anak sementara Siti mempunyai dua anak. Mereka tetap berperan sebagai ibu dan istri di dalam lingkup keluarga. Mereka tetap menjaga dan merawat buah hati mereka. (fat/iwd)










































