Itulah yang membuat warga setempat menggelar ritual untuk meminta hujan. Bukan dengan salat minta hujan yang biasa digelar agar hujan segera turun, warga Desa Salen menggelar ritual dengan kesenian tradisional ujung atau kesenian adu pukul, Minggu (4/9/2015). Seperti apa keseruannya?
Alunan musik tradisional gamelan mengiringi pertunjukan ujung. Sebuah panggung terbuka yang terletak di tengah Desa Salen menjadi arena bagi para peserta ujung. Terlihat dua orang peserta yang hanya memakai celana menari mengikuti irama gamelan. Sementara ratusan peserta lainnya mengantri di bawah menunggu giliran.
Dengan wajah riang, tangan kedua pria itu menenteng batang rotan sepanjang 1 meter. Keduanya pun bersiap saling pukul secara bergantian. Saat seorang pria berbaju hitam yang bertindak sebagai wasit memberikan aba-aba, peserta yang mendapat giliran mulai maju. Sementara peserta satunya juga mendekat sembari merentangkan rotan di atas kepala bersiap menangkis serangan lawan.
Di sudut arena, seorang pria berkaos merah yang membawa bakul kuningan menaburkan beras kuning ke arah kedua peserta. Plak! Batang rotan lentur itu mengayun deras mengenai punggung salah satu peserta. Demikian setiap peserta secara bergiliran mendapat kesempatan untuk memukul dan dipukul sebanyak 3 kali.
Bekas luka memar yang menggores kulit seakan tak membuat sakit para peserta. Senyum lebar terpancar dari wajah mereka. Sembari menari di bawah terik matahari, ratusan peserta bergantian unjuk kemampuan mereka mencambuk dan dicambuk di atas panggung.
Upah Rp 40.000 sepertinya cukup menjadi obat para peserta setelah 3 kali dicambuk dan menyambuk. Sorak sorai ratusan penonton menambah ceria senyum mereka.
"Kesenian ujung ini suatu tradisi untuk meminta hujan pada Yang Maha Kuasa. Ketika peserta kena cambuk dan mengeluarkan darah, darah dimaknai sebagai hujan, itu sebuah kepercayaan pada zaman dulu," kata Sri Waluyo Widodo selaku Kumelandang atau wasit dalam pertunjukan ujung.
Widodo menuturkan, ritual tolak balak digelar sebelum pertunjukan ujung dimulai. Selaku Kumelandang, widodo menari sembari mengelilingi panggung dan membaca doa khusus. "Ritual ini untuk menolak balak agar peserta tidak mengalami luka fatal," ungkapnya.
Menurutnya, pertunjukan kesenian ujung selalu digelar saat puncak musim kemarau. Selain sebagai tradisi untuk meminta hujan, terik matahari diharapkan meningkatkan semangat setiap peserta. "Tempatnya panas agar pemain semangat, emosinya agar lebih besar," sebutnya.
Lantas bagaimana rasanya menjadi peserta ujung? Salah seorang peserta, Parnadi (44), asal Desa Patuk, Kecamatan Krian, Sidoarjo bersedia membagi pengalamannya. Menurut pria bertubuh tambun yang sudah sekitar 30 rutin ikut ujung ini, rasa sakit terkena cambukan lawan memang terasa.
Terlebih lagi upah yang dia peroleh tak sebanding dengan beberapa luka yang nampak jelas di punggung dan lengannya. Hanya saja, rasa sakit itu terkalahkan dengan kesenangan yang dia dapatkan.
"Saya sering ikut sehingga sudah biasa kalau kena cambuk. Walaupun di atas panggung seperti musuh, kalau sudah selesai saling berpelukan sesama peserta," ujarnya.
Untuk menyembuhkan luka bekas cambukan itu, Parnadi memilih menggunakan getah kulit pisang hijau yang disediakan panitia. "Getah kulit pisang ini manjur untuk mengobati luka, cepat kering," cetusnya.
Tak hanya warga Desa Salen yang antusias menjadi peserta ujung. Peserta dari Sidoarjo hingga Pasuruan juga turut unjuk gigi. Bahkan, kakek-kakek juga nekat mengikuti kesenian adu pukul ini.
(fat/fat)











































