Menurut Koordinator Kelompok Garam Sidoagung Desa Kebonagung Kecamatan Kraksaan, Sudar mengatakan, sejak 2 minggu ini produksi garam di Desa Kebonagung mengalami kendala. Lantaran abu Gunung Raung mengguyur Kabupaten Probolinggo beberapa hari yang lalu dan mempengaruhi lahan garamnya yang sudah memasuki masa panen.
"Kualitasnya jelek dan garam rusak, harganya pun anjlok. Biasanya harga jualnya mencapai Rp 600/kg, sekarang menjadi Rp 400/kg. Karena garam sudah bercampur abu vulkanik dari Gunung Raung," jelas Sudar saat ditemui detikcom di lahan garam, Senin (3/8/2015).
Sudar menjelaskan, biasanya garam yang dia kelola setiap kali panen dikirim ke daerah Bali. Hal itu, imbuh dia, dijadikan sebagai bahan kecantikan untuk mandi sauna dan kolam renang. Namun, kali ini hanya bisa digunakan sebagai pengasinan ikan saja dan dipasarkan ke daerah Puger Jember dan daerah lokal Probolinggo.
"Setelah dibandingkan dengan garam yang tidak terkena imbas abu vulkanik, warnanya jauh berbeda, warnanya jernih putih. Yang kena abu vulkanik warnanya agak kehitaman dan abunya sangat tampak," tambahnya.
Sementara lahan garam di Sidoagung, dalam satu kali panen mencapai 4 ton, dalam 1 tambak dengan ukuran lahan meja garam 50x15 meter persegi. Sedangkan dari jumlah keseluruhan lahan tambak garam di Sidoagung mencapai belasan hektar, yang dikelola oleh kelompok Sidoagung.
(fat/fat)











































