Tidak hanya mereka dari Banyuwangi, ada beberapa rombongan dari Cilacap, Majalengka dan Jakarta, turut dalam acara ritual ini. Dengan hanya bertelanjang dada, masyarakat dan santri itu menunggu guyuran dari KH Mas Saifullah Ali, pengasuh dan pembina ponpes tersebut.
Selanjutnya, mereka berebut masuk ke sumber air yang dibendung itu. Bahkan dari mereka, sengaja membawa botol, untuk mengambil air sumber yang langsung mengalir ke laut itu.
"Mandi di bulan Suro ini kami percayai bisa membersihkan jiwa dan raga kami. Agar kita selamat di tahun berikutnya," ujar Ahmad (45) salah santri ponpes itu, kepada detikcom (3/11/2014).
Tidak hanya mandi di Sumber Watu Dodol, mereka juga menggelar pagelaran wayang kulit. Pegelaran wayang ini sebagai bentuk ruwatan yang dikhususkan untuk bangsa Indonesia.
Menurut Pengasuh dan Pembina Ponpes Al-Hikam Banyuwangi, KH Mas Saifullah Ali, kegiatan ini menyambut tahun baru Islam. Sesuai dengan kitab kuno di bulan Syuro, perlu diadakan ruwatan nusantara. Ini dilakukan agar Indonesia selalu damai dan terhindar dari mara bahaya serta bencana.
"Ini merupakan ruwatan nusantara, untuk menghilangkan sengkoloning urip dan sengkoloning jagat. Kita mendoakan agar Indonesia diselamatkan dari mara bahaya. Pemerintahan baru mudah-mudahan memberikan perubahan berupa kesejahteraan masyarakat," ujarnya kepada detikcom.
Sementara ditanya terkait ritual mandi di Sumber air Watu Dodol, kata dia, untuk membersihkan jiwa dan raga manusia.
"Agar dalam kehidupan setahun mendatang bisa berjalan lancar mulai dari rezeki, kesehatan dan dihindarkan dari bahaya," tandasnya.
(fat/fat)











































