"Kita menganggap Pemilu Borjuasi 2014 adalah pemilunya para pemodal. Kita menganggap bahwasanya partai-partai yang tampil kampanye di tingkatan nasional adalah salah satu partai yang menghamba pada kepentingan modal," ujar Humas SMI, M Riza, di sela-sela aksinya di Jalan Gubernur Suryo depan gedung Grahadi, Senin (3/3/2014).
Riza mengatakan, SMI menganggap partai politik tidak ada yang berpihak sama sekali kepada rakyat. Salah satunya contohnya, biaya pendidikan semakin mahal.
"Di sektor perburuhan, maraknya politik upah murah seperti penetapan UMK kemarin. Juga di tingkat pertanian, bahwa pemerintah dan elit politik borjuasi hari ini pun menggusur kepentingan rakyat guna kepentingan kaum modal," tegasnya.
Secara tegas, SMI menolak Pemilu Borjuasi 2014 dan akan membangun persatuan dan kesatuan gerakan rakyat. "Membangun kesatuan alat politik rakyat untuk menandingi kepemimpinan kaum pemodal. Kita menganggap kepemimpinan yang seharusnya adalah dari kaum buruh yang wajib memimpin negara ini kalau ingin sejahtera," tandasnya.
Puluhan massa SMI ini berasal dari berbagai kota seperti Surabaya, Medan, Jakarta, Bengkulu, Yogyakarta, Kediri, Bekasi, Tangerang dan beberapa daerah lainnya.
Selain orasi, mereka juga menggelar berbagai poster yang diantaranya bertuliskan "Nasionalisasi asset vital di bawah kontrol rakyat', 'Pendidikan gratis SD-PT adalah hak bagi seluruh rakyat Indonesia', 'Orang miskin dilarang sekolah!!!', dan berbagai poster lainnya.
Aksi mereka mendapatkan penjagaan dari Polsek Genteng. Meski aksinya berjalan damai, sempat mengganggu arus lalu lintas yang mengarah ke Jalan Gubernur Suryo. Namun, setelah melintasi titik kumpul pendemo, arus kembali lancar.
(roi/fat)










































