Ashitaba, Tanaman Obat Asal Jepang yang Tumbuh Subur di Mojokerto

- detikNews
Rabu, 12 Feb 2014 12:57 WIB
Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Ashitaba adalah tanaman asli dari Jepang. Namun siapa menyangka, tanaman ini bisa tumbuh subur di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Tanaman ini dibudidayakan secara organik oleh masyarakat setempat, untuk diolah sebagai sediaan farmasi yang berkhasiat menghilangkan penyakit tertentu.

Ribuan tanaman langka itu terhampar dengan hijaunya di lereng gunung Welirang. Tanaman itu bernama Ashitaba dan diketahui merupakan salah satu tanaman herbal asal negeri Matahari Terbit.

Kustari (55), salah seorang petani di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas yang ikut membudidayakan tanaman Ashitaba mengatakan, Ashitaba disebut masyarakat dengan nama seledri Jepang. Maklum saja, karena memang daun Ashitaba mirip sekali dengan sayuran seledri yang biasa dikonsumsi warga.

"Tanaman ini dibawa ke Trawas oleh orang Jepang pada tahun 2000 lalu, dan awalnya hanya untuk penelitian saja," ungkap Kustari saat ditemui di lahan Ashitaba miliknya, Rabu (12/2/2014).

Awalnya, warga setempat enggan membudidayakan tanaman ini, lantaran belum mengetahui khasiatnya. Setelah orang Jepang itu menjelaskan kalau Ashitaba ada khasiatnya, warga akhirnya bersedia untuk menanam.

"Kini, hampir separuh petani di desa ini menanam Ashitaba. Lahannya ya memanfaatkan lereng Gunung Welirang ini," imbuhnya.

Kustari menambahkan, alasan orang Jepang sendiri menawari petani untuk menanam Ashitaba karena jenis tanah yang sesuai dengan tanaman tersebut. Selain itu, kondisi tanah dan udara yang masih bersih, minim kontaminasi zak kimia.

"Seledri Jepang mulai ditanam dalam jumlah banyak pada 2002. Hasil panen kami kirim ke pabrik obat yang ada di Ngoro. Kemudian produknya dijual ke Jepang," ungkapnya.

Total saat ini Ashitaba ditanam di lahan yang memiliki luas 30 hektar, dengan jumlah petani yang mencapai lebih dari 100 orang. Untuk setengah hektar lahan, dalam sekali panen petani mendapatkan penghasilan bersih sekitar Rp 500 ribu.

Daun Ashitaba dijual dengan harga Rp 1500 per kilogram. Sementara untuk akarnya, dijual dengan harga Rp 1000 per kilogram. Paling mahal justru getah tanaman ini, yang harganya antara Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu per kilogram.

"Getah Ashitaba yang berwarna kuning berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit darah tinggi atau hipertensi. Ada banyak orang yang datang kesini untuk mendapatkan Ashitaba. Terutama yang mempunyai penyakit darah tinggi," tutur Kustari.

Selain getahnya, akar dan daun Ashitaba juga bermanfaat. Hanya saja kata Kustari, ada cara khusus untuk bisa dikonsumsi sebagai obat Hipertensi (tekanan darah tinggi, red)

(bdh/bdh)