Awalnya, Putra menderita demam tinggi dan dilarikan ke puskesmas, Senin (27/11/2013) oleh orang tuanya. Oleh dr Nunik, dokter jaga, Putra diberi obat penurun panas jenis puyer sebanyak 10 sachet untuk 3 hari.
Namun, setelah dikonsumsi justru tubuh Putra mulai muncul bintik-bintik merah, bibir pecah-pecah dan mata merah. Hanya 2 hari mengkonsumsi obat tersebut, kondisi Putra semakin parah dan orang tuanya memutuskan menghentikan penggunaan obat tersebut. Kedua orang tua Putra pun kembali mendatangi puskesmas untuk memeriksakan Putra.
Oleh puskesmas, Putra langsung dirujuk ke RSUD Mardiwaluyo. Orang tua Putra kembali harus menebus obat berbentuk puyer dan syrup. Setelah menebus resep, Putra segera diberi obat. Setelah diminumkan sebanyak 2 kali ternyata detak jantung berdegup kencang dan sesak nafas.
Tak ingin kondisi Putra semakin parah, kedua orang tuanya membawa ke RS Muhammadiyah Aminah. Di RS ini, Putra mendapat pengawasan khusus dan hingga kini masih mendapatkan perawatan intensif.
"Kami meminta pihak puskesmas segera bertanggungjawab akan semua ini karena menyebabkan anak saya seperti ini sekarang," ujar Sandy, ayah Putra saat ditemui di RS Aminah Kota Blitar, Rabu (27/11/2013).
Saat dikonfirmasi, pihak Puskesmas Sananwetan menjelaskan jika korban datang ke puskesmas untuk berobat. Namun tidak diberi obat tapi diberi rujukan.
"Awalnya korban datang, observasinya sudah panas disertai gatal. Kami tidak bisa mengambil tindakan karena di puskesmas pelayanan dasar saja. Jika kondisi korban seperti itu yang jelas akan kita investigasi penyebab pasien bisa seperti itu," terang dr Silvia Dewi saat dikonfirmasi wartawan pukul 10.00 WIB, Selasa (26/11/2013).
Saat ditanya dugaan keracunan obat, dr Silvia enggan menjawab. Sementara dokter yang kini merawat Putra di RS Aminah belum bisa dimintai konfirmasi terkait penyebab kondisi Putra.
(/)










































