Kala itu Risma melakukan sidak ke suatuperkempungan di Surabaya. Karena terkena macet, Risma lebih memilih turun dari mobilnya. Risma kemudian berboncengan menggunakan sepeda motor dengan ajudannya.
"Karena macet, saya naik motor. Eh saat sampai, saya diusir tukang parkir. Katanya itu area parkir walikota," cerita Risma di hadapan ibu-ibu komunitas Sampoerna Women's Community di Ballroom JW Marriott Surabaya, Jumat (18/10/2013) siang.
Si tukang parkir menghadang sepeda motor yang ditumpangi Risma. Namun, tak lama kemudian laki-laki paruh baya itu pun malu karena pengendara motor yang ia hadang itu tak lain adalah Tri Rismaharini.
"Pas saya buka helm, dia (tukang parkir) kaget. Katanya gini, lho bu wali," tutur Risma sambil tersenyum mengenang pengalamannya.
Dari kejadian ini, Risma menggarisbawahi pelajaran penting. Bahwa manusia janganlah terlalu sungkan dan menghormati kebendaan, mobil misalnya.
"Yang penting, hormati sesama (orangnya), jangan mobilnya," kata Risma.
Risma berulang kali mengatakan, dirinya tidak pernah memimpikan jabatan sebagai Walikota Surabaya. Baginya, jabatan hanyalah titipan Allah.
"Saya nggak pernah terpikir jadi walikota, dulu saya nggak mau. Tapi kalau Tuhan percaya, saya nggak beban. Jabatan ini sekadar titipan dari Allah," pungkas perempuan lulusan ITS ini.
(nrm/fat)











































