Ultimatum Trump Sebelum 'Pancung' Iran

Ultimatum Trump Sebelum 'Pancung' Iran

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 05 Agu 2026 05:43 WIB
Tarif 10% Berakhir, Trump Berlakukan Bea Masuk Baru terhadap 60 Mitra Dagang
Foto: Presiden AS Donald Trump. (DW (News))
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump murka terhadap Iran yang membantah sedang bernegosiasi dengan AS. Trump mengancam Iran agar adanya 'kesepakatan', bahkan Trump memberi ultimatum terakhir sebelum melakukan 'pemenggalan'.

Dirangkum detikcom, Selasa (4/8/2026), awalnya pada Minggu (2/8) Trump mengatakan AS membatalkan serangan ke Iran. Ia mengungkap adanya permintaan penundaan serangan karena adanya batasan kesepakatan yang telah disetujui. Kesepakatan tersebut terkait pembukaan Selat Hormuz dan akhir dari ancaman senjata nuklir.

Namun Iran menganggap pernyataan Trump tersebut sebagai klaim sepihak. Iran juga membantah adanya permintaan penghentian rencana serangan AS tersebut, Trump lantas murka atas pernyataan Iran tersebut. Berikut rangkuman ancaman Trump ke Iran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump Beri Ultimatum

Trump lalu berang usai Iran membantah sedang bernegosiasi dengan AS. Trump juga mengancam Iran agar adanya kesepakatan atau menyerah.

Dilansir AFP dan AL Jazeera, dalam unggahan di media sosial Truth pada Senin (3/8), Trump dengan penuh amarah, mengatakan bahwa blokade militer AS akan berlanjut hingga ada "Kesepakatan, atau penyerahan total."

Presiden AS itu mengkritik Iran karena tidak menyetujui "diskusi apa pun". Dia berang Iran hanya berurusan dengan Oman.

"Kepemimpinan Iran sungguh munafik! Mereka meminta pertemuan, sebagian orang mengatakan 'memohon' pembicaraan dimulai, dengan lebih banyak pertemuan dijadwalkan dalam waktu dekat, dan mereka mengatakan, secara terbuka dan bangga, bahwa mereka tidak mengadakan diskusi apa pun, bahwa tidak ada yang dibicarakan, dan mereka hanya berurusan dengan 'Oman'," tulis Trump.

Trump menuduh Iran melanjutkan omong kosong tentang Selat Hormuz. Trump mengatakan selat itu dikendalikan oleh militer AS.

"Kemudian mereka melanjutkan dengan omong kosong mereka yang biasa dengan mengatakan, Selat Hormuz akan dioperasikan secara kuat oleh mereka, padahal selat itu sudah sepenuhnya dikendalikan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat dan 'Blokade' kita atau, seperti yang dikatakan sebagian orang, "Tembok Baja Amerika Serikat!" katanya.

Barulah Trump memberikan Iran pilihan melakukan kesepakatan atau penyerahan total. Trump mengatakan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.

"Tidak ada yang bisa sampai ke Iran, kecuali jika kita menginginkannya, dan tidak akan ada yang bisa sampai, kecuali jika Kesepakatan, atau Penyerahan Total, tercapai. Terlepas apakah Iran mau mengakuinya atau tidak, kita sebenarnya sedang membicarakan solusi untuk masalah yang telah mereka sebabkan selama beberapa dekade. Sangat sederhana, IRAN TIDAK AKAN PERNAH MEMILIKI SENJATA NUKLIR!" pungkasnya.

Iran Bantah soal Negosiasi

Pemerintah Iran menegaskan bahwa pihaknya saat ini tidak sedang mengadakan negosiasi dengan Amerika Serikat. Iran mengatakan pihaknya sedang bernegosiasi dengan Oman mengenai rute aman sementara melintasi Selat Hormuz.

"Saat ini kami tidak sedang bernegosiasi dengan Amerika Serikat. Negosiasi kami adalah dengan Oman untuk mengamankan jalur melalui Selat Hormuz," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei dalam konferensi pers mingguan, dilansir kantor berita AFP, Senin (3/8).

Dia menambahkan bahwa mencapai kesepakatan dengan Oman tidak cukup untuk membuka kembali selat tersebut, karena situasinya akan tetap tidak berubah selama "agresi" AS berlanjut.


Trump Ultimatum Iran sebelum 'Pemenggalan'

Trump mengatakan ingin memberikan kesempatan terakhir kepada Iran, sebelum melakukan apa yang disebutnya sebagai "pemenggalan". Trump pun kembali mengklaim negosiasi sedang "berlangsung", meskipun telah dibantah oleh Teheran.

Hal itu disampaikan Trump saat berbicara kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih pada Senin (3/8) waktu setempat. Dilansir Anadolu Agency, Selasa (4/8), Trump kembali mengklaim bahwa Iran yang meminta dilanjutkannya negosiasi dengan AS.

"Iran tidak ingin diserang, dan mereka bilang ingin berdialog. Kami sedang berdialog atas permintaan Iran, yang didukung oleh Arab Saudi, UEA (Uni Emirat Arab), dan khususnya Qatar, serta pihak-pihak lain juga," kata Trump dalam pernyataannya.

"Ini kesempatan terakhir bagi mereka untuk menandatangani dokumen yang bagus," sebutnya.

"Saya ingin memberikan kesempatan terakhir kepada mereka sebelum pemenggalan," ucap Presiden AS itu, tanpa menjelaskan lebih lanjut soal apa yang dimaksud dengan "pemenggalan" tersebut.

Lebih lanjut, Trump kembali menegaskan bahwa negosiasi antara AS dan Iran "sedang berlangsung saat ini". Dia menambahkan bahwa Teheran memang suka menyangkal jika sedang terlibat dalam negosiasi dengan Washington.

Dituturkan Trump bahwa perundingan akan berlangsung dalam dua tahap, dengan tahap pertama berfokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz dan tahap kedua membahas kemampuan nuklir Iran.

Iran Tak Ingin Perang Meluas

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran akan mempertahankan wilayahnya. Namun, Pezeshkian juga menegaskan bahwa Iran tidak berniat melanjutkan atau memperluas perang.

"Konflik, baik di area sekitar, kota, negara, maupun antar negara, merupakan penyakit yang muncul," ucap Pezeshkian saat berbicara kepada media pemerintah Iran, seperti dilansir Iran Internasional, Selasa (4/8/2026).

"Kami akan mempertahankan perbatasan kami, namun kami tidak berniat memperluas perang ataupun melanjutkannya," tegas Presiden Iran tersebut.

Saksikan Live DetikPagi:

Halaman 2 dari 2
(yld/yld)


Berita Terkait