Informasi yang dihimpun, melangitnya harga bensin sudah terjadi di wilayah Kecamatan Nawangan sejak DPR RI menyetujui APBN-P 2013 beberapa waktu lalu. Harga bensin di kios eceran terus merangkak hingga Rp 7 ribu per liter.
Meski dirasakan berat, namun banyak pemilik kendaraan terpaksa membeli bensin dengan harga tersebut. Sebab, jika harus mengisi tanki ke SPBU jaraknya cukup jauh. Seperti yang dialami seorang guru bernama Mega ini.
"Pas pulang dari mengajar, bensin motor mau habis. Saya sempat khawatir tidak cukup untuk pulang ke Pacitan. Tapi syukurlah masih bisa bertahan sampai SPBU," ujar Mega kepada detikcom, Jumat (21/6/2013).
Perempuan berjilbab yang mengajar di salah satu SD itu beruntung masih dapat mencapai SPBU tanpa membeli bensin eceran. Sedangkan beberapa rekannya terpaksa membeli di kios pinggir jalan meskipun dengan harga tinggi lantaran takut mogok kehabisan bensin.
Terpisah, pengelola SPBU di Jalan Gatot Subroto, Pacitan, mengatakan, pihaknya memang melakukan pembatasan pembeli eceran dengan jerigen. Langkah itu dimaksudkan mencegah peluang terjadinya penimbunan. Dirinya tetap mengacu ketentuan, pembeli harus menunjukkan surat keterangan sebelum dilayani.
"Pembelian hanya kami layani maksimal 10 jeriken. Itu pun hanya kita berikan kepada pedagang eceran yang benar-benar dapat dipercaya," ujar Sudarsono, pengawas SPBU Ploso, Jalan Gatot Subroto.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan setempat, Heri Purwanto tidak menampik adanya ulah spekulan yang menaikkan harga BBM eceran. Hanya, menurutnya hal itu merupakan dampak sesaat menjelang pengumuman resmi pemerintah.
"Seharusnya memang tidak boleh menaikkan harga. Tapi di masa transisi biasanya ada yang spekulasi," katanya melalui pesan singkat kepada detikcom.
Dari pantauan, di beberapa SPBU di Kota 1001 Gua itu, aktivitas pembelian BBM masih berlangsung seperti hari biasa. Tidak terlihat kepadatan maupun antrean panjang menjelang pemberlakuan kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi.
(iwd/iwd)










































