Korban baru ditemukan setelah perahunya yang terombang-ambing menabrak perahu nelayan lain di perairan laut Desa Klatakan sekitar pukul 22.00 WIB, Minggu (26/5/2013) malam. Terdapat luka bakar di pinggang Sutoyo, yang diduga akibat terkena knalpot mesin perahunya.
Tahu begitu, Pak Muse (47), penumpang perahu lain yang ditabrak itu pun langsung menarik korban dan perahunya ke daratan. Dibantu warga dan polisi, mayat Sutoyo segera dibawa ke Ruang Jenazah RSU dr Abdoerrahem Situbondo untuk menjalani pemeriksaan medis.
"Sebelum berangkat kerja ke laut, dia (Sutoyo) mengeluh sakit kepala. Korban ini memang punya penyakti tekanan darah tinggi. Mungkin penyakitnya itu kambuh di tengah laut, sehingga jadi tak terkontrol sampai kena knalpot," kata Yoyok, Kepala Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Senin (27/5/2013) dini hari.
Keterangan yang dihimpun detikcom menyebutkan, sebelum ditemukan tak bernyawa Sutoyo pamit bekerja di keramba ikan miliknya. Lokasinya sekitar 600 meter dari bibir pantai Dusun Gundil, Desa Klatakan, Kecamatan Kendit. Korban seorang diri menumpang perahu mesin. Entah bagaimana, bagian pinggang korban bisa terkena knalpon mesin perahunya.
Sengatan knalpot itu diduga membuat tubuh Sutoyo terlempar dan jatuh tengkurap di atas dek, lalu tewas. Saat Sutoyo sudah tak bernyawa, perahu yang ditumpanginya jadi terombang ambing di perairan laut setempat. Korban baru ditemukan setelah perahunya itu menabrak perahu yang ditumpangi Pak Muse, sekitar pukul 22.00 Wib.
"Tidak ada tanda-tanda kekerasan. Luka di pinggang itu diduga akibat terkena knalpon mesin perahunya sendiri. Selama ini korban dikenal punya penyakit hypertensi. Karena itu keluarga korban menolak dilakukan otopsi. Mereka menerima kenyataan ini sebagai musibah," kata Aiptu I Nyoman Armada, Kanit Reskrim Polsek Kendit kepada detikcom.
(fat/fat)











































