Pantauan detiksurabaya.com di SPBU Ploso, Jl. Gatot Subroto, Senin (15/4/2013) deretan kendaraan berbagai jenis mulai mengular sejak pukul 15.00 WIB. Tak hanya truk maupun kendaraan besar, mobil keluarga juga ikut mengantre.
"Yang penting mobil tetap jalan, mengantre tidak masalah asalkan kebagian," ungkap Riyadi, pengemudi truk ditemui detiksurabaya.com di SPBU Ploso.
Bagi sopir yang mengandalkan penghasilan dari jasa angkut barang seperti Riyadi, ketersediaan solar di SPBU sangat menentukan pendapatan harian. Kalaupun nekat membeli solar eceran, biaya opersional ikut membengkak.
"Di kios eceran per liternya mencapai Rp 7.500," ujarnya sambil mengatakan jika dirinya baru tiba dari Ponorogo dan sempat kehabisan solar di jalan.
Minimnya jatah solar di SPBU Ploso dibenarkan seorang karyawan. Kuota pengiriman yang berkurang dibanding hari biasa, menjadi alasan pengelola SPBU memberlakukan pembatasan penjualan bagi tiap kendaraan yang mengisi solar.
"Maksimal Rp 100 ribu tiap kendaraan," terang Suweno, seorang karyawan sambil sibuk melayani pembeli.
Biasanya, lanjut Suweno, tiap harinya SPBU tempatnya bekerja menerima kiriman solar sebanyak 16 ribu liter. Jatah itu habis dalam tempo sehari. Namun belakangan jumlah itu berkurang hingga separuhnya.
"Sekarang (pengiriman) hanya 8 ribu liter. Itu pun pengiriman tiap 2 hari sekali," tandasnya.
(bdh/bdh)










































