Tubagus Yusus mengatakan, upaya mediasi dengan rektorat gagal dilakukan. Aksi hari ini menyindir rektorat tidak memiliki etikad mendengar keluhan mahasiswa.
"Rektorat tidak peduli dengan gagalnya mediasi," kata humas aksi, Kamis (2/8/2012).
dIA mengungkapkan, monopoli merupakan simbol sikap rektorat dalam merespon protes mahasiswa atas kenaikan SPP. "Bagaikan monopoli dilakukan rektorat pada kami," ungkap dia.
Dalam aksi ini, beberapa pimpinan kampus rektor, pembantu rektor dua dan tiga diperankan oleh mahasiswa yang memainkan monopoli di depan gedung rektorat.
Pada lembar monopoli berukuran besar itu memperlihatkan simbol-simbol usaha kampus selama ini, ada fakultas-fakultas, inbis, asrama hingga rumah sakit Brawijaya.
"Rektorat sudah menjadikan kampus sebagai ladang bisnis," tegas mahasiswa Fakultas Hukum ini.
Mahasiswa sendiri kata Tubagus tetap menuntut agar kebijakan SPP progresif dicabut karena semakin menyulitkan orang tua mereka. "Permintaan kami dicabut," ujar dia.
Seperti diketahui, Universitas Brawijaya akan menaikkan SPP Mahasiswa yang tak lulus tepat waktu. Jika kuliah lebih dari 4 tahun spp akan naik 15 persen, lebih dari 5 tahun naik 30 persen dan lebih dari 6 tahun naik 45 persen.
(fat/fat)











































