Saat hilang kesadaran, Dini diterbangkan ke Makassar. Kini Dini dipekerjakan sebagai wanita penghibur di sebuah bar dan panti pijat di Makasar.
"Beberapa hari ini dia (Dini, red) SMS terus minta cepat ditolong agar bisa pulang. Tadi siang SMS lagi katanya sudah mendingan, karena sebelumnya sakit sampai tidak bisa jalan," kata Diana Ella (20) di rumahnya Jalan Basuki Rahmat, Situbondo, Senin (9/4/2012).
Lebih jauh, adik kandung Dini itu menuturkan, keluarganya baru tahu Dini jadi korban perdagangan manusia, Kamis (5/4/2012) malam lalu. Saat itu, Dini berhasil mengontak adiknya dan mengabarkan keberadaannya di Makassar sebagai wanita penghibur.
"Anak saya juga menceritakan bagaimana kejadiannya bisa sampai di Makassar. Katanya dia digendam saat berada di Surabaya," timpal Anik, ibu kandung Dini.
Diperoleh keterangan, pada hari Senin (26/3/2012) lalu, Dini bermaksud kembali ke tempat kerjanya di Surabaya. Wanita yang ditinggal suaminya sejak hamil itu berangkat dari Situbondo sekitar pukul 06.00 WIB dan tiba di Terminal Purabaya Bungurasih pukul 12.00 WIB.
Karena sangunya pas-pasan, dari Terminal Bungurasih Dini bermaksud naik ojek ke tempat kerjanya di Jalan Manukan, Surabaya. Saat mencari ojek, tiba-tiba Dini bertemu dengan seorang pria tak dikenal yang menawari tumpangan.
Dini sempat menolak karena mobil tumpangan itu tidak menyerupai taksi. Namun, si pria bersikukuh jika mobilnya itu taksi. Karena percaya, Dini pun akhirnya naik ke mobil tersebut.
"Di dalam mobil mbak saya sempat ditanya macam-macam, termasuk pekerjaannya di Surabaya. Si pria itu bilang katanya lebih enak kerja di Makassar gajinya besar. Tapi mbak saya tidak mau," papar Diana Ella.
Penolakan Dini untuk bekerja di Makassar tak menyurutkan niat pelaku terus melancarkan aksinya. Saat itu, pria tak dikenal itu tiba-tiba mengontak dua orang temannya. Setelah bertemu di suatu tempat, dua pria itu ikut naik ke mobil yang konon jenisnya menyerupai Toyota Avanza.
Di dalam mobil itu, satu dari dua pria itu sempat memegang jempol tangan Dini. Sejak itu, Dini seolah tidak sadar dan mau menuruti semua perkataan para pria tersebut.
"Setelah muter-mutar, pukul 17.00 sore itu katanya anak saya sampai di Bandara Juanda. Anak saya dikasih alamat barnya dan sangu Rp 200 ribu. Herannya dia mau saja disuruh naik pesawat hingga sampai di Makasar. Mungkin tiket pesawatnya sudah disiapkan," sambung Diana.
Saat tiba di Bandara Makassar, Dini dijemput sebuah taksi hingga sampai di sebuah bar & panti pijat. Di tempat itu, Dini dipaksa bekerja sebagai wanita penghibur. Tak jarang Dini juga dipaksa melayani pria hidung belang dengan tarif Rp 200 ribu.
Namun, dari tarif tersebut Dini hanya menerima uang jasa Rp 50 ribu saja. Di tempat itu, Dini juga menyampaikan selalu dipajang di kaca mirip etalase untuk ditawarkan ke pengunjung.
"Waktu baru sampai itu katanya ditaruh di dalam kamar. Kamarnya juga harus disewa Rp 500 ribu sebulan. Kalau mau pergi pakai dikawal bodyguard," tukas Diana lagi.
Saat ini pihak keluarga berharap ada pihak terkait yang bisa membantu membebaskan Dini dari tempat pelacuran tersebut.
(fat/fat)










































