Tapi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) berbeda pendapat. Melalui Wakil Sekjen-nya, Bambang Haryo, MTI menilai bahwa kecelakaan itu dan banyak kecelakaan lain terjadi karena salah pemerintah yang tidak peduli dengan keadaan infrastruktur jalan.
"Jalan di Indonesia adalah salah satu yang terburuk di dunia," kata Bambang kepada wartawan, Selasa (3/1/2012).
Bagaimanapun, kata Bambang, sarana infrastruktur khususnya jalan sudah tidak berbanding lurus lagi dengan jumlah kendaraan yang ada. Dan pemerintah sangat sedikit berupaya untuk menambah, memperbaiki atau memajukan sarana tersebut. Jadi, tambah Bambang, jalan yang buruk sangat berperan dalam terjadinya sebuah kecelakaan.
"Jangan hanya menyalahkan sopirnya saja. Belum tentu sopir bersalah," tambah Bambang.
Bambang menerangkan bahwa sedikitnya ada 4 kekurangan infrastruktur jalan di Indonesia. Pertama adalah jalan yang tidak steril, contohnya adalah jalan tol yang katanya bebas hambatan dan steril ternyata masih bisa dimasuki motor, orang dan bahkan binatang. Kedua, jalan di Indonesia tidak mempunyai lajur sendiri untuk masing-masing kendaraan.
Hal ini berkaitan dengan kurangnya ruas jalan yang ada, sehingga bila sebuah kendaraan menyalip misalnya becak, maka saat menyalip dia akan mengambil lajur jalan kendaraan dari arah berlawanan.
Ketiga, banyaknya jalan rusak, berlubang dan bergelombang. dan keempat adalah kurangnya penerangan, kurangnya marka jalan dan kurangnya rambu lalu lintas.
"Sebenarnya masyarakat bisa melakukan class action dengan buruknya kondisi jalan di Indonesia. Itu ada undang-undangnya," lanjut Bambang.
Bambang berpendapat bahwa sangat tidak bijak bila melakukan penutupan atau mencabut izin operasonal Sumber Kencono. Bila itu dilakukan, maka yang jadi korban bukanlah Sumber Kencono melainkan masyarakat. Dengan armadanya yang berjumlah 230 unit bus, Sumber Kencono menguasai 60 % trayek Surabaya - Solo - Jogyakarta.
"Dishub sudah menyatakan bahwa Sumber Kencono laik. Kalau merekomendasikan izinnya mau dicabut, apa itu tidak sama dengan menjilat ludah sendiri," tandas Bambang.
(iwd/fat)










































