Pantauan detiksurabaya.com, kerusakan bangunan umumnya terjadi pada bagian tembok dan lantai. Bagian tembok yang retak menimbulkan lubang menganga selebar telapak tangan orang dewasa. Demikian pula lantai keramik beberapa bagian terlepas.
Sementara, sebagian rangka bangunan dan kusen jendela terlepas dari tembok. Untuk menahan agar bangunan tidak roboh, warga terpaksa memasang tiang penopang dari bambu.
"Tiap malam terdengar suara gemertak dari arah tembok. Makin lama retaknya makin lebar sampai seperti ini," ungkap Tarni (40), warga RT 2 RW 3 Dusun Krajan kepada detiksurabaya.com di lokasi, Rabu (2/3/2011).
Tarni mengakui, sekitar sepuluh tahun silam bencana semacam itu pernah terjadi. Hanya saja, dampaknya tidak separah saat ini. Karena itu, warga tetap bertahan di rumah.
Namun, sejak awal musim hujan tahun lalu pergerakan tanah semakin bertambah. Dampaknya pun semakin parah. Ini ditandai banyaknya bangunan yang mengalami retak. Hal ini tentu mengkhawatirkan bagi penghuni rumah.
Bukan itu saja, akibat bencana tersebut Tarni terpaksa membangun rumah hingga dua kali. Itupun ternyata tidak membuat dia bersama tiga anggota keluarganya terbebas dari rasa khawatir. Sebab, belum genap lima tahun rumah direhab, bencana terulang lagi.
"Rumah yang lama rusak terus dirobohkan sekalian. Setelah itu bikin rumah lagi. Ternyata retak lagi, malah kondisinya lebih parah," keluhnya.
Meski dihantui rasa takut, namun Tarni enggan mengungsi. Pasalnya, perempuan yang menjadi kepala keluarga karena ditinggal suaminya merantau itu tidak memiliki lahan di tempat lain. Sebagai gantinya, saat malam hari penghuni rumah pindah ke rumah kosong di sebelahnya.
Selain terjadi di Desa Ngumbul, fenomena tanah bergerak juga terjadi di Desa Kluwih. Akibat kejadian tersebut, rumah milik Slamet, warga Dusun Tenggar nyaris roboh. Satu kepala keluarga terpaksa diungsikan.
(bdh/bdh)










































