DetikNews
Selasa 21 Desember 2010, 16:26 WIB

Calon Pemimpin Pacitan

Prayitno Teman Sekolah SBY, Indartato Mantan Sopir Bupati

- detikNews
Prayitno Teman Sekolah SBY, Indartato Mantan Sopir Bupati
Pacitan - Sebelum mendampingi Indartato sebagai calon wakil bupati dalam bursa Pilkada Pacitan, nama Prayitno lebih dikenal sebagai pendidik. Sejak diangkat menjadi PNS pada 1974 hingga pensiun pada Bulan Nopember 2010, Prayitno tidak pernah beranjak dari dunia pendidikan. Terakhir, dia menjabat Kepala SMA Negeri 1 Pacitan.

Dibalik itu semua, pria kelahiran Pacitan, 20 Oktober 1950 ini merupakan teman dekat Susilo Bambang Yudhoyono. Kedekatan Prayitno dengan tokoh yang sekarang menjadi orang nomor satu di negeri ini bermula saat keduanya duduk di bangku SMP Negeri Pacitan (1962-1965). Selama tiga tahun belajar di sekolah yang terletak di Jalan Ahmad Yani itu keduanya baru sebatas saling kenal. Maklum, keduanya belajar di kelas berbeda.

Hubungan kedua remaja itu kian akrab saat mereka memasuki jenjang pendidikan SMA. Sejak diberlakukannya penjurusan mata pelajaran, mereka pun memilih jurusan yang sama, yakni Ilmu Pasti. Selama 2 tahun hingga lulus dari SMA Negeri 1 Pacitan pada tahun 1968, hubungan Prayitno-SBY muda menjelma menjadi sebuah persahabatan. Tidak jarang keduanya terlibat kegiatan belajar kelompok maupun kegiatan lainnya.

\\\"Yang betul-betul teman satu kelas, yaitu waktu di kelas 2 dan kelas 3 SMA sebab mengambil jurusan yang sama. Ilmu pasti pada waktu itu,\\\" tutur Prayitno, ditemui detiksurabaya.com saat silaturahmi dengan jajaran Muspida di rumah calon bupati Indartato, Jalan Yos Sudarso, Selasa (21\/12\/2010).

Komunikasi diantara kedua sahabat itu sempat terhenti setelah keduanya lulus SMA. Sebab, mereka melanjutkan pendidikan ke lembaga yang berbeda. Prayitno kuliah di IKIP Malang sedangkan Susilo Bambang Yudhoyono menelusuri jejak ayahnya (Alm R. Soekotjo, red) menjadi tentara melalui jalur Akademi Militer. Belakangan, komunikasi itu kembali terjalin setelah SBY menempati jabatan penting, mulai menteri hingga presiden.

\\\"Kalau beliau punya gawe, misalnya mantu atau apa itu, kita kadang-kadang diundang. Kemudian upacara kenegaraan tanggal 17 Agustus biasanya kita juga diundang,\\\" imbuhnya.

Meskipun dikenal dekat, namun diakui Prayitno, pencalonan dirinya sebagai kandidat wakil bupati dalam pemilukada di kota kelahiran SBY, tanpa didahului pembicaraan secara pribadi. Bahkan, dia baru menyadari \\\'ketiban sampur\\\' setelah rekomendasi dari DPP Partai Demokrat turun. Restu SBY itu pula yang kian membulatkan tekad suami dari Wiwik Pujiastusti maju dalam kompetisi pemilukada.

Lain halnya dengan Prayitno, calon bupati Indartato memiliki latar belakang kurang beruntung. Masa kecilnya sebagai anak pamong praja membuat sosok kelahiran Ponorogo, 27 September 1954 terbentuk menjadi sosok sederhana. Penghasilan orang tuanya yang terakhir memegang jabatan wedono atau pembantu bupati relatif pas-pasan kala itu. Akibatnya, Indartato muda harus menahan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah.

Selain dikenal lugas, putra pasangan Sudarmanto – Kasiati ini juga tidak muluk-muluk. Cita-citanya pun hanya ingin menjadi sopir. Keinginan itu bukan tanpa alasan. Di mata Indartato muda yang tinggal di Kecamatan Ngadirojo, Pacitan, profesi sopir merupakan simbol kemakmuran. Di saat kebanyakan orang baru bisa menikmati nasi thiwul (nasi berbahan baku ketela, red) sebagai santapan sehari-hari, para sopir sudah bisa menyantap nasi beras di warung.

\\\"Dari waktu kecil saya jarang makan enak. Teman-teman bisa makan nasi putih keluarga saya makan tiwul. Itupun masih harus dibagi dan makannya bersama-sama,\\\" ungkap Indartato, saat ditemui di rumahnya, Selasa (21\/12\/2010).

Dorongan itu yang membuat Indartato memberanikan diri belajar mengemudi. Atas jasa tetangganya yang memiliki kendaraan angkutan jenis pick up, Indartato belajar menguasai kendaraan hingga akhirnya berhasil memperoleh Surat Ijin Mengemudi. Bermodal keterampilan itu, dia lalu mencoba mengadu nasib dengan melamar pekerjaan di Pemkab Pacitan.

Rupanya, nasib baik memang berpihak padanya. Berbekal ijazah SMA, pada tahun 1975 Indartato diterima bekerja menjadi tenaga harian. Setahun kemudian, posisinya dinaikkan setingkat lebih tinggi menjadi tenaga harian tetap dengan posisi baru sebagai sopir bupati yang saat itu dijabat Mohammad Kusnan. Sejak saat itulah karier Indartato terus merangkak naik. Tahun 1978 Bupati Kusnan memberinya kesempatan tugas belajar ke Akademi Pendidikan Dalam Negeri (APDN).

Indartato mengawali kariernya pada jabatan struktural sebagai Camat Pringkuku pada tahun 1984. Saat itu usianya baru 30 tahun, usia termuda untuk seorang camat. Karena tuntutan jabatan, posisinya terus berpindah-pindah dari satu instansi ke instansi yang lain. Terakhir, bapak 3 anak, hasil perkawinannya dengan Luki Tri Baskoro Wati memangku jabatan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan hingga pensiun tahun 2010.

Seperti diketahui, hasil sementara penghitungan cepat versi Tim Koordinasi Dukungan Penyelenggaraan Pemilukada Pacitan menunjukkan, pasangan Indartato – Prayitno yang diusung partai Demokrat, PKS, PPP dan Partai Hanura meraup 186.590 suara atau (65,48 persen) dari total suara sah sebanyak 284.967. Jika hasil rekapitulasi manual oleh KPU tanggal 26 Desember mendatang memberikan hasil yang sama, Indartato akan memikul tanggung jawab besar, mengemudikan kendaraan besar bernama Pemerintah Kabupaten Pacitan.

\\\"Yang penting, jadi sopir itu penumpangnya harus bisa tidur nyenyak. Artinya tidak ada rasa khawatir, rewel apalagi mabuk,\\\" pungkasnya berfislosofi.




(bdh/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed