Informasi yang dihimpun menyebutkan, bentrok antara warga bermula saat Hj Mariyam (55) warga Desa Daleman, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep mengangkut dagangannya berupa kedelai dari Pasar Ganding ke tempat timbangan yang jaraknya sekitar 100 meter. Saat itu Hj Mariyam menggunakan jasa becak yang dikemudikan Hannan (50), warga Ganding.
Karena barang dagangannya cukup banyak, maka si pengayuh becak mengangkut hingga tiga kali. Yang menjadi pemicu bentrok warga, pemilik dagangan hanya membayar Rp 1.000. Sedangkan penggayuh becak minta lebih.
Keduanya pun ngotot dan terjadi cekcok mulut. Hj Mariyam yang tergolong kaya dan disegani di desanya merasa tersinggung hingga akhirnya memanggil 5 warga untuk memberi pelajaran pada pengayuh becak.
Terjadilah aksi pengeroyokan terhadap pengayuh becak. Dan mengalami babak belur. Dalam kondisi tak berdaya, pengayuh becak tetap berusaha melawan. Tak jauh dari lokasi kejadian terdapat sebuah parang (sajam berukuran besar tak bertuan), lalu diambil dan dibacokkan ke orang-orang yang mengeroyoknya.
Salah satu dari mereka, Masyhuri (45) warga Daleman terkena sabetan sajam di bagian bahu kanan dan mengalami luka cukup serius. Para tukang becak lainnya dan warga lain yang simpati akhirnya balik mengeroyok warga suruhan Hj Mariyam.
Beruntung, polisi langsung ke lokasi kejadian dan meredam emosi kedua kelompok warga yang bentrok tersebut.
Kapolres Sumenep, AKBP Susanto mengatakan, persoalan tersebut diawali salah paham. "Hj Mariyam dan pengayuh becak, Hannan masih diperiksa. Dua orang ini yang menjadi pemicu awal," kata Susanto kepada wartawan di lokasi, Senin (20/12/2010).
Dia juga mengaku berusaha mendamaikan dua kelompok warga agar tidak memicu persoalan lain. Pantauan detiksurabaya.com, sekitar 30 petugas kepolisian saat ini masih berjaga-jaga di Pasar Ganding untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. (wln/wln)










































