Ini didapat dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE) Sinar Hasil Buana di Kecamatan Gampengrejo.
"Sejak program konversi diberlakukan sampai sekarang sudah ada 13 ribuan tabung yang rusak. Semuanya sekarang kami sisihkan dan tidak lagi digunakan," ungkap Manajer SPBE Sinar, Hasil Buana Suyatno, kepada wartawan di lokasi kerjanya, Sabtu (17/7/2010).
Suyatno menambahkan, teknis sorti dilakukan secara sederhana, yaitu mencelupkan tabung yang telah diisi dengan gas elpiji ke dalam bak berisi air. Jika ditemukan adanya gelembung, SPBE diakui akan mengeluarkan kembali gas dan memisahkannya dengan tabung lainnya.
Sementara dari catatan jumlah kerusakan, paling banyak terjadi pada bagian foot ring (cincin kaki), neck ring (cincin atas), serta valve atau katub. Selain itu, ketebalan bahan tabung yang bervariasi dari setiap produsen juga mempengaruhi usianya dari kemungkinan karatan dan keropos.
"Kalau adanya patah di cincin bawah dan atas, biasanya karena sikap kurang hati-hati pekerja agen yang seenaknya melempar tabung kosong," ungkapnya.
Ironisnya, dari catatan tabung rusak tersebut semuanya telah dibubuhi stempel SNI, yang artinya dianggap lolos uji kelayakan. Kondisi ini diakui tak lepas dari banyaknya produsen tabung, hingga menjadikan pemasangan label SNI sangat sulit dibedakan keasliannya.
"Kalau boleh jujur sebenarnya membahayakan, tapi kami memang sulit membedakan. Bagi kami asalkan bobot tabung kosong sesuai aturan, kami anggap itu layak pakai," pungkas Suyatno.
(wln/wln)










































