Nusantara kini beralih menjadi Lembaga Pendidikan Islam Pelita Hati di Jalan S.
Supriyadi, Kota Malang, namun nasibnya belum menentu.
Pemilik Yayasan Pelita Hati, Suyadi menuturkan, pihaknya tidak menaruh keberatan untuk pendidikan bagi AD. Namun, untuk masalah tempat tinggal keluarga AD sedikit menjadi masalah. "Siapa yang akan memberikan fasilitas, baik segi pekerjaan, uang atau kebutuhan sehari-hari," ujar Suyadi saat ditemui detiksurabaya.com di kompleks Lembaga Pendidikan Islam Pelita Hati, Senin (31/5/2010).
Sebagai bentuk kepedulian terhadap AD, Suyadi sengaja mengajak AD bergabung dalam kelas Pendidikan usia Dini (PAUD) pagi tadi. Seragam dan kebutuhan belajar telah ditanggung oleh pihaknya.
"Tadi pagi kami ajak ikut belajar di PAUD bersama 20 anak lain. AD bisa cepat
beradaptasi. Meskipun secara resmi dia baru bisa sekolah Juni nanti," ungkapnya.
Suyadi tak memungkiri awal pertama kali keluarga AD datang ke tempatnya sempat
muncul masalah. Hal itu dikarenakan adanya miss komunikasi antara pihak pemerintah daerah dan yayasan.
"Waktu itu kami tidak dipamiti dulu sebagai pemilik. Untuk AD kami tidak masalah. Tapi kalau semua keluarga, itu yang kami keberatan," tuturnya.
Suyadi sendiri belum dapat memastikan sampai berapa lama AD dan keluarganya tetap tinggal di kompleks Lembaga Pendidikan Pelita Hati. Namun, untuk mempercepat kejelasan itu, pihaknya akan membahas masalah ini bersama Pemerintah kota Malang serta kedua orang tua bungsu dari empat bersaudara ini.
"Ini akan kami bahas bersama Pemkot dan kedua orang tua AD. Untuk kejelasan tempat tinggal mereka berikutnya," ujarnya.
Menanggapi ancaman pengusiran kembali oleh pemilik yayasan. Mulud Riadi menyerahkan semuanya kepada pemerintah untuk menyelesaikan. "Kami tinggal di sini atas perintah pak lurah. Bukan kami yang mau," ucap bapak empat anak ini.
(fat/fat)











































