Anak pencari ikan di Sungai Bengawan Solo itu tak bisa menelan makanan maupun air minum. Sehari-hari orangtuanya memberikan susu melalui selang plastik dari lubang hidung. Meski begitu, sang bocah tumbuh normal laiknya anak seusianya.
Selang tersebut dililitkan dan ditempel di atas kepalanya untuk memudahkan orangtua menyuntikkan susu dan air minum lainnya. Praktis saban hari salah satu lubang hidung Ihsan terdapat selang hingga masuk ke tenggorokannya.
Ny Wasriyatun yang ditemui detiksurabaya.com menyatakan, dalam kurun seminggu sekali dia membawa anaknya berobat ke RSUD Bojonegoro Dr Sosodoro Djatikoesoemo. Dengan berbekal kartu Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) dia mengganti selang anaknya.
"Selama ini kondisi anak saya ya seperti ini. Katanya pak dokter di rumah sakit
Bojonegoro sakit Palasisis (maksudnya; Palatoschizis-Red) yang harus dioperasi,"
kata Ny Wasriyatun saat ditemui di rumahnya di Dusun Jetis, Desa Ngadirejo, Kecamatan Rengel, Tuban, Kamis (27/5/2010).
Sedangkan Suratno menyatakan, keluarganya tak mungkin mampu membiayai operasi anaknya karean keterbatasan biaya. Penghasilannya yang tak menentu sebagai pencari ikan di Sungai Bengawan Solo, tak memungkinkan membiayai operasi yang informasinya mencapai Rp 35 juta.
"Tidak tahu pak, saya sudah pasrah tidak mungkin membiayai Ihsan operasi," kata
Suratno, saat ditemui di rumahnya yang berdinding anyaman bambu dan berlantai
tanah itu. Rumah seukuran 7x5 meter persegi itu sekitar 100 meter dari Sungai
Bengawan Solo.
Kondisi Ihsan memang tumbuh normal, namun langit-langit mulutnya bagian atas tak ada. Sedangkan lantai rongga mulutnya normal. Meski begitu juga tak merasa sakit, karena kelainan ini diketahui sejak lahir, merupakan pembawaan.
Dia katakan, setiap 2 jam sekali ia menyuntikkan susu melalui selang yang ditempel di kepalanya. Rata-rata setiap sekali injeksi seukuran 100 cc.
"Yang menjadi pikiran kami setiap hari itu, bagaimana nasibnya anak ini kalau jelas Ny Wasriyatun.
(fat/fat)










































