Ahmadi hanyalah sopir mobil pick up pengangkut sapi ke Pasar Hewan Kepoh Larangan. Pria berusia 37 tahun ini sudah ditinggal mati Sumriyah, istrinya. Perkawinan selama 5 tahun itu tidak membuahkan anak. Mendiang Sumriyah pernah keguguran saat usia kandungan berumur 7 bulan.
Setelah ditinggal Sumriyah, Ahmadi pun menikahi Hamsi (26). Derita Ahmadi makin bertambah, setelah sebulan ini ditinggal Hamsi. Bisa jadi, Hamsi tidak tahan merawat suaminya yang digerogoti virus HIV/AIDS.
Ahmadi yang dulunya bertubuh tambun merasakan tubuhnya sakit-sakitan pada Februari 2009 lalu. Karena sakitnya tak kunjung sembuh, Ahmadi lalu memeriksakan diri ke RSU Pamekasan. "Setelah dirawat selama 3 hari, saya disuruh berobat ke rumah sakit di Surabaya," kata Ahmadi yang ditemui detiksurabaya.com di rumahnya di Dusun Karang Panggil Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Rabu (24/2/2010).
Ahmadi tidak langsung berobat ke Surabaya. Sebab, Ahmadi hanyalah sopir borongan yang kerjanya tidak setiap hari. Ahmadi baru mendapatkan penghasilan saat diminta mengantarkan sapi ke pasar hewan. Itupun berdasarkan hari pasaran.
Setelah mengantongi kartu Jamkesmas, Ahmadi lantas memeriksakan diri ke RSU Dr Soetomo Surabaya. Berdasarkan hasil pemeriksaan laborat yang tercatat dalam buku rekam medik, Ahmadi dinyatakan positif terjangkit HIV/AIDS. Dalam rekam medik itu, ada blanko yang mencatat rincian hasil laborat yang ditandatangani dr Nina N, SpPD.
Karena kemiskinan itu pula, Ahmadi hanya bertahan rawat inap selama 3 hari. Ahmadi memilih pulang dan menjalani rawat jalan. Termasuk rutin memeriksakan diri ke dr Virly SpPD yang membuka praktek di Jalan Raya Pangelegur Pamekasan. Dari lembaran Laborat Holistik milik dr Virly, Ahmadi juga dinyatakan positif terjangkut HIV/AIDS.
"Masih beruntung, Dokter Virly tidak mengutip biaya pemeriksaan laborat. Saya hanya diminta menebus obat," jelas Ahmadi, yang didampingi Artinah (25), adik bungsunya.
Menurut Ahmadi, dirinya harus menelan pil seharga Rp 20 ribu untuk dikonsumsi selama 7 hari. Dalam sebulan, Ahmadi harus menebus obat seharga Rp 80 ribu. "Itupun tidak seluruh obat dalam resep dokter Virly yang saya tebus. Jika ditebus semuanya, saya tidak punya uang," sambat Ahmadi.
Kini, Ahmadi menunggu uluran tangan para dermawan untuk membantu menutup penebusan resep. Sebab, jika tidak meminum obatnya, Ahmadi merasa sangat lemas. Seluruh persendiannya teras ngilu. Akibat penyakitnya itu, Ahmadi tidak pernah mandi lantaran tubuhnya terasa sangat dingin saat air menimpa tubuhnya.
(fat/fat)










































