Informasi yang berhasil dihimpun detiksurabaya.com, kapal tongkang dengan nomor lambung TJA 289 tersebut mulai terdampar sejak, Jumat (11/12/2009) pagi, setelah diterjang ombak setinggi 4 meter.
Kondisi ini juga diperparah angin kencang yang terus menerjang di perairan selatan Pulau Jawa, hingga mengakibatkan nahkoda kapal tidak berani melanjutkan perjalanan.
"Kami cari amannya saja, nggak berani ambil resiko. Besok atau lusa kalau memang cuaca sudah membaik, kami akan lanjutkan perjalanan," terang kapten kapal tongkang, Werlif Monave, saat ditemui wartawan di Pos Polair Pantai Popoh.
Selain mengakibatkan lebih dari 12 ton batubara tertunda pengirimannya, sebanyak 10 ABK tongkang tersebut saat ini juga terkatung-katung nasibnya. Dengan bekal yang terbatas, mereka mengaku harus bisa memenuhi kebutuhannya selama kapalnya terdampar.
Akibat dari terdamparnya kapal yang dipimpinnya, Werlif memastikan pengiriman batubara ke PLTU Cilacap akan mengalami keterlambatan. Dari jadwal semestinya menjalani bongkar pada Sabtu (12/12/2009) mendatang, dia tidak bisa memastikan kapan aktivitas tersebut dapat dilakukan.
"Soal kemoloran ini kami sudah kontak ke perusahaan, dan kami diminta mengamankan muatan. Kalau pasokan batubara yang terlambat, kami sebenarnya juga tidak menginginkannya," jelas Werlif.
(bdh/bdh)











































