Puluhan warga yang emosi berkumpul di balai desa karena mendengar rumor bila kades dengan paksa mencium Mulyati (35), ibu rumah tangga desa setempat beberapa waktu lalu. Aapalgi korban dan kades telah berdamai dengan masalah itu.
"Kami datang ke sini untuk meminta klarifikasi kejelasan tentang perbuatan kades beberapa waktu lalu. Apakah itu benar," jelas Guntoro salah seorang warga kepada detiksurabaya.com di lokasi, Selasa (13/10/2009).
Mengantasi emosi warga, Badan Pemerintahan Desa (BPD) menggelar pertemuan bersaama petugas kepolisian. Untuk menemukan jalan keluar. BPD mengundang Kabag Pemerintahan Desa Pemkab Malang, Norman untuk melakukan mediasi antara warga dengan kades. Mulyati sebagai korban juga didatangkan ke balai desa.
"Kami ingin tahu motif apa membuat masalah ini didamaikan," imbuh Guntoro.
Hingga pukul 13.00 WIB masih belum ditemukan jalan keluar atas permintaan warga bahwa kepala desa harus mengakui perbuatannya kepada Mulyati.
Dari bukti rekaman suara yang dibawa warga yang didengarkan ke khalayak, Mulyati mengaku jika kades telah mencium dirinya tanpa sengaja. Dan masalah itu telah diselesaikan.
Sementara secara terpisah, Kepala Desa Tajinan Sugeng membantah semua yang telah dituduhkan. Bahkan, dirinya menduga kuat ini adalah perbuatan orang yang tidak menyukai kepemimpinannya.
"Saya pasrah saja dengan hasil pertemuan ini, tapi apa yang telah dituduhkan oleh warga itu semua tidak benar," jelas Sugeng kepada detiksurabaya.com.
Menurut Sugeng, keluarganya memang mempunyai hubungan dekat dengan Mulyati. Sebagaimana pekerjaan Mulyati sebagai pembantu rumah tangga di keluarganya.
Dia mengaku beberapa hari lalu, Mulyati bersama suaminya Slamet datang ke rumahnya untuk tidak membawa rumor berkembang di masyarakat berlarut-larut.
"Keduanya telah menandatangani surat tidak menuntut," ungkap Sugeng. Aksi warga ini mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian.
(fat/fat)











































