Pembacokan tersebut terjadi di rumah Kepala Desa ST. Peristiwa ini berawal saat korban dipanggil kepala desa dan ditanyai hasil suara pilgub di TPS I Desa Pandan Lanjang. Korban menjawab jika di TPS tersebut KarSa memperoleh 80 suara, dan pasangan Kaji meraup 200 suara.
Mendengar laporan KarSa kalah telak, sang kades naik pitam dan marah-marah hingga akhirnya anak kades ikut campur dalam cek cok mulut itu. Korban berusaha menenangkan suasana dengan cara minta maaf. Namun, korban malah dibalas dengan sabetan senjata tajam berupa celurit.
Korban pun mengalami luka di bagian tangan kanan dan punggung belakang. Bahkan, tangan kirinya nyaris putus. Warga yang mengetahui peristiwa tersebut berusaha melerai dan membawa korban ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkalan.
Korban pembacokan Mat Baie (50) mengatakan, semula dirinya tidak mengira jika kepala desa yang memanggil akan mempersoalkan perolehan pasangan KarSa. Namun, setelah dijelaskan dan diketahui KarSa kalah jauh dengan pasangan KaJi malah melakukan penganiayaan.
"Saya ini dibacok karena perolehan suara KarSa kalah dengan pasangan KaJi," kata Mat Baie pada wartawan di RSUD Bangkalan, Jalan Pemuda Kaffah, Jumat (23/1/2009).
Kondisi korban yang terlihat kritis tersebut akhirnya dirujuk ke RSU Dr Soetomo Surabaya dengan dikawal oleh tim pemenangan KaJi tingkat Kabupaten Bangkalan.
Sementara, Ketua Tim Pemenangan pasangan KaJi tingkat Kabupaten Bangkalan, M Gaffar menyayangkan kejadian penganiayaan tersebut, karena berkaitan dengan Pilgub Jatim ulang. "Penganiyaan ini kan menodai demokrasi Pilgub yang sudah berlangsung aman," kata Gaffar pada wartawan di RSUD Bangkalan.
Dia meminta petugas kepolisian melakukan pengusutan sesuai dengan prosedur yang ada. Sebab, penganiayaan tersebut melukai semua pihak, baik demokrasi mau pun kesan masyarakat Madura secara umum. (bdh/bdh)











































