Karena kerapatan tegaknya mangrove yang tumbuh di sepanjang daratan teluknya yang mencapai 18 Km dan memiliki ketebalan rata-rata 300 meter, kawasan ini diklaim sebagai hutan mangrove terbaik se Jawa-Bali.
"Kawasan ini dalam persiapan menjadi pusat kajian kelautan, konsepnya wisata alam tapi terbatas. Pemerintah desa menggandeng beberapa pihak yang peduli, termasuk LSM dari Jepang dan beberapa perguruan tinggi negeri di Jawa," jelas Kepala Desa Sumberasri, Suyatno panjang lebar saat mengantar detiksurabaya.com ke tepi Pantai Teluk Bedul, Sabtu (3/1/2009).
Dijelaskan Suyatno, saat musibah Tsunami menerjang kawasan pantai selatan Banyuwangi diawal 90-an silam, pemukiman nelayan di sekitar Teluk Bedul terselamatkan berkat kokohnya gugusan hutan mangrove.
Di antara bulan Oktober-Desember dapat dijumpai kawanan burung migrasi dari Australia yang berbaur dengan ratusan burung lokal. Jika jeli, disalah satu kaki burung migran terpasang bendera kecil negara asalnya. Namun tidak semua memakainya.
Lestarinya hutan bakau tak lepas dari kesadaran masyarakat sekitar Teluk Bedul. Sebagian besar penghidupan warga setempat tergantung dari tangkapan ikan yang melimpah di perairan tenang tersebut.
Tak heran, para nelayan tradisional tak segan-segan bertindak jika melihat ulah orang-orang tidak bertanggung jawab membahayakan kawasan tersebut. Nelayan merasa memiliki hutan itu dan menjaga benar kawasan ini.
Untuk menjaga kelestariannya, kini kawasan hutan mangrove yang juga masuk dalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo ini rencananya akan menjadi pusat penelitian kelautan dan keilmuan lainya yang dikemas dalam wisata alam terbatas. (stv/fat)











































